Sang Rajawali
Dear Rekan’s,
ini adalah goresan hati jeritan jiwa penuh iba merana. catatan pribadi dari relungku paling dalam. Bila anda kebetulan membaca tulisan ini, mengerti makna dibalik kata. Senyum sahabat dan motivasi sangat kunanti.
selamat membaca
Sang Rajawali
Lebih sepuluh tahun aku di bawah ketiak Rajawali
Mematuk
Mencakar
Mencengkeram mangsa
Aku ikut serta
Terbang tinggi
Menukik
Mengintai
Melibas competitor
Mengganyang pasar
Aku ikut serta
Sayap Rajawali ikan panjang dan lebar
Cengkeraman kaki kian kuat
Paruh semakin tajam, sadis mencabik lawan
Mahkota gemerlap semakin tak terlawan
Musuhpun berguguran
Aku ikut serta
Aku disini,
Di bawah ketiak Rajawali
Dalam galau dan resah
Mencoba mengendalikan diri
Pemberontakan demi pemberontakan batin terjadi
Akahkah tumbuh sayapku sendiri?
Walau kecil awalnya,
Tapi bebas kubawa terbang jiwa ini kemana ku suka.
Atau,
Sampai mati ku tetap dibawah ketiak Sang Rajawali!
Tubuh gendut, tapi jiwa kian merana.
Ataukah, syukur berarti pasrah?
Jakarta, 15 Juni 2008-06-16
Sal, dalam pemberontakan.


June 16th, 2008 at 5:09 pm
Syukur bukanlah pasrah
bila ada doa dan harapan
ada semangat juang
sayapmu akan tumbuh dan mengepak
bawa dirimu tuju negeri di awan
dan percayalah..
semua akan terasa indah
pada waktunya
(nyambung gak sih?)
June 16th, 2008 at 7:49 pm
Semoga mampu menumbuhkan sayap lebih kuat dari sang rajawali…
Mampu berdiri tegak tanpa perlu berlindung di bawah sayap sang rajawali….
Kalaupun pasrah, biarkan terlalui setelah ada ikhtiar berusaha
Hinga syukur diakhiri dengan rasa puas di hati yang ikhlas
Semangat!
June 17th, 2008 at 9:51 am
hmmm….
keindahan hanya akan terjadi bila sudah saatnya. great! setuju.
rasa puas, hanya berada pada hati yang ikhlas. well! mindset lah yg bicara. pola pikir adalah raja.
th’s atas supportnya.
June 17th, 2008 at 5:10 pm
kawan… kenapa sajakmu ini begitu galau?