Selamat Tinggal Pendidikan Agama yang Biasa
Sebagai seorang siswi dari sebuah sekolah Katolik, saya telah menandatangani sebuah pernyataan siswa di awal tahun ajaran mengenai pendidikan agama Katolik yang akan saya terima. Selama 10 tahun terakhir, saya bersekolah di sebuah lembaga yang sama. Hal ini bukan berarti saya harus pindah agama, melainkan karena ingin dan wajib turut menyukseskan visi dan misi sekolah. Namun di awal tahun ajaran kali ini saya menemukan sesuatu yang sangat berbeda dari biasanya.
Seluruh siswa sangat terkejut begitu menyadari bahwa mereka tidak akan mempelajari pendidikan agama Katolik yang biasanya di dalam kelas. Konsep “pendidikan agama” telah diubah menjadi “pendidikan iman alternatif” yang disebut Pendidikan Religiositas. Seperti yang dikatakan dalam kata pengantar buku paket tersebut, kata religiositas berasal dari bahasa Latin yang berarti relasi. Relasi yang dimaksudkan adalah relasi antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, manusia dengan alam, dan manusia dengan dirinya sendiri.
Perbedaan dasar yang paling mencolok dari materi yang akan dibahas dalam buku paket tersebut adalah bahwa kami akan mempelajari agama sesuai dengan agama kami masing-masing. Artinya, kami akan mempelajari keseluruhan 6(enam) agama di dalam kelas, termasuk Kong Hu Cu. Hal ini menimbulkan sejumlah tanda tanya. Sang guru telah menjelaskan kepada kami tentang konsep pendidikan Religiositas selama 2 x 45 menit namun saya masih belum dapat menangkap luar dalam konsep pendidikan ini secara keseluruhan. Apa yang dapat saya tangkap mengenai tujuan dipelajarinya enam agama tersebut adalah agar kami tidak menjadi pribadi yang picik dan terbuka terhadap pendapat dari agama atau kepercayaan yang lain. Namun sejauh mana tingkat keberhasilan metode pendidikan yang baru ini, hanya waktu yang dapat menjawabnya.


July 31st, 2008 at 9:27 am
Saya agak bingung dengan kalimat dalam paragrap tiga baris kedua sampai keempat:
… kami akan mempelajari agama sesuai dengan agama kami masing-masing. Artinya, kami akan mempelajari keseluruhan 6(enam) agama di dalam kelas, termasuk Kong Hu Cu.
Kalau (kami) mempelajari agama sesuai agama masing-masing berarti tidak perlu mempelajari keseluruhan enam agama dong..
Anyway, saya baru kali ini mendengar (atau membaca?) ada sekolah yang siswanya mempelajari enam agama sekaligus. Wuihhh…
July 31st, 2008 at 11:46 am
Waduh.. nggak ngerti deh maksud sekolah tersebut buat itu kurikulum…
-_-
August 1st, 2008 at 8:50 am
sah-sah saja sekolah tertentu membuat kurikulum seperti itu. agama itu sekedar wadah, titian. hakekatnya cuma satu “Tuhan”.
dalam keyakinan yang saya anut pun “tidak ada paksaan dalam beragama”, lebih dikedepankan ketimbang “masuklah kamu dalam keyakinanku”.
hanya saja, satu dari sal yang sedikit menjadi ganjalan ialah kurikulum tersebut terkesan “mendewakan otak”. padahal hakekat Tuhan dan ke-Tuhan-an hanya dapat diresaki lewat keyakinan.
apakah, lantas seorang atheis dikutuk saat ini juga. ndak toh?
perasaan dan pikiran ibarat saudara kembar. tidak bisa di-unggulkan satu diatas lainnya. begitu satu saja disanjung, satunya lagi akan iri. bayangkan jika sal punya dua kekasih (ups, boleh dong. sal kan ganteng), satu saja dibuat iri dan cemburu. boleh jadi sal malah kehilangan dua-duanya.
kembali ke kurikulum,
sal menangkap dari postingan ini, kurikulum itu menitik beratkan bukan pada “agama” tertentu. melainkan pada “inti”. yaitu, Tuhan - alam - manusia, boleh sal sederhanakan menjadi “kehidupan”.
sal kurang pas dengan sebutan “iman alternative”. iman itu hanya satu “percaya”. dibolak-balik, di jungkir- aduk seperti apapun tetap satu. nah, soal “percaya” ini urusan perasaan (hati) bukan pikiran.
sal hanya menganggap bahwa, tidak selamanya segala sesuatu harus berdasar “logic”.
he..he..he.. sorry ya, ngelantur.
August 2nd, 2008 at 1:27 pm
@Lita: wah sori, maksudnya ‘memperdalam’ agama masing-masing, yang dipelajari tetap 6. Thanks komentarnya.
@ega: sama, saya juga bingung kok.
Tapi kabarnya ini kebijakan dari pemerintah untuk sekolah swasta. Thanks sudah berkomentar.
@Sal: Sepakat Sal! Justru seorang beragama pun belum tentu lebih keyakinannya daripada seorang atheis. Pokoknya setuju deh sama yang sudah diungkapkan oleh Sal! Mengenai ungkapan “iman alternatif”, itu dikutip dari kata pengantar buku paket yang digunakan.
Gak ngelantur kok Sal, memang kadang kala tanggapan itu terkesan ngelantur, padahal memberikan pemikiran yang baru dan inovatif. Thanks untuk komentarmu.
Salam.
August 4th, 2008 at 5:15 pm
Helo Sobat,
tulisan ini ngebingungin. Banget. Nggak jelas, kurikulum sebelumnya apa dan yang sedang diujicobakan juga apa. Nggak ada keterangan detail, hingga referent hanya waktu yang dapat menjawabnya jadi nggak jelas juga.
Tulisan nonfiksi harus runtut, jelas, valid, dan nggak bisa sembarangan apalagi kalo menyangkut kebijakan yang tengah berjalan. Bukannya apa2, tapi bisa2 pihak lain komplain dengan tulisan kita.
Saya pribadi, juga tidak sepakat dengan kurikulum di sekolah2 tertentu yang sedikit ‘memaksa’ siswa2nya ikutin agama tertentu di dalam pembelajaran di sekolah tersebut. Nggak banget deh, dan sebenernya ini udah nggak pas lagi dengan anutan KETUHANAN YANG MAHA ESA.
Tapi namanya institusi tertentu, sah kok punya aturan seperti itu… tinggal kita dong ya mestinya yang milih, kalau nggak sesuai ya jangan maksain masuk ke situ… toh banyak sekolah lain yang juga berkelas dan sama2 bisa mencetak prestasi.
Salam,
http://www.kinoysan.multiply.com
August 5th, 2008 at 11:02 am
saya setuju dengan mbak kinoysan, seorang pelajar masih butuh proses pembelajaran dan tidak ada pemaksaan dalam hal keagamaan apalagi sampai enam agama sekaligus apa tuh bukan pencekokan keagamaan kalau sekedar pendalaman keagamaan saya kira cukup satu saja terlebih dahulu, terkadang kita ketahui dalam satu lembaga hanya satu agama, yang dipakai kalau pun toh ada yang berbeda toleransi antar umat beragama, waduwwwwwww ga kebayang tuh kalau mempelajari 6 agama dalam satu waktu, kalau masalah luar saja nothing problem tapi kalau masalah akidah dan keimanan apa jadinya hal itu tidak menutup kemungkinan jadi keyakinan yang pluralis, setiap agama yang berbeda punya satu tuhan yang sama. gak kebayang banget
August 6th, 2008 at 9:53 am
@mbak Kinoysan, terima kasih sekali sudah komentar pada karya saya ya Mbak. Ah iya, saya sering lupa menyertakan keterangan-keterangan detail. Saya akan berusaha lebih memperhatikan setiap detil berikut validitasnya, terima kasih banyak telah mengingatkan.
@hanafi, terima kasih ya sudah berkomentar. Betul saya sangat setuju, sangat memungkinkan malah, menjadi keyakinan yang pluralis.
August 7th, 2008 at 7:50 am
Saya pernah membaca ide tersebut dari koran dan memang katanya sudah berlangsung di SMA di Jateng.Ide itu dari lembaga pendidikan berbasis agama.Patut ditanyakan apa misi kurikulum itu sebenarnya,mengingat remaja dalam masa pembentukan kepribadian tapi sudah dihadapkan pada perbandingan agama .Pendidikan multikultural tidak harus seperti itu.Patut ditanyakan apakah lembaga tersebut benar_benart berlapang dada dalam memberi informasi semua agama tersebut?Atau ujung_ujungnya membuat bingung anak dan terarah dengan suka rela memilih salah satu agama,tentu agama dari yayasan lembaga pendidikan tersebut?
August 18th, 2008 at 9:38 am
hi..
klo komentar saya, saya setuju dengan pihak sekolah yang “mengubah” kurikulum “pendidikan agama katholik” (karena merupakan lembaga katholik) menjadi “pendidikan iman alternatif”. saya rasa hal itu bertujuan untuk lebih “membaurkan” antara siswa yang satu dan lainnya, karena walaupun merupakan sekolah katholik, belum tentu satu kelas diisi oleh siswa yang beragama katholik semua.
sebagai contoh, ketika saya smp, saya bersekolah dengan latar belakang sekolah katholik. salah satu teman saya beragama islam. nah, ketika pelajaran agama katholik berlangsung, dia sama sekali tidak mengerti apapun, akhirnya dia keluar kelas setiap pelajaran agama katholik. akhirnya pihak sekolah memberi kebijakan untuk “memanggil” guru agama islam tetapi dengan pertimbangan2 tertentu seperti jumlah siswa harus sekian, harus menyusun jadwal untuk pelajaran agama islam tersebut, dll.
dari contoh tersebut saya mengambil kesimpulan bahwa justru cara belajar seperti itu kurang efektif dan efisien. saya rasa justru sekolahmu yang sekarang ini dapat “memberi jalan keluar” bagaimana cara untuk belajar agama dengan latar belakang beragamnya agama pada satu kelas tersebut, walaupun sekolahmu adalah sekolah katholik. jadi tidak ada pendiskriminasian agama tertentu.
karena tadi kamu bilang mempelajari beberapa agama, maka pasti setiap pelajaran agama ada sharing antar siswa dan akan membuat suasana kelas makin hidup =)
kalo tingkat keberhasilan tergantung dari siswa tersebut sendiri.. =) guru dan sekolah hanya fasilitator.
jadi,menurut saya kamu tidak usah bingung2 lagi dengan metode pembelajaran seperti itu. =)
panjang banget ya?
hehe..
-githa nila maharkesri-
September 12th, 2008 at 2:42 pm
[...] setiap siswa dapat mengasah keimanannya masing-masing (yang termasuk dalam salah satu indikator pelajaran religiositas), dengan apa saya akan [...]