SEMANGAT PAGI
Oleh : Heri Ispriyahadi
Percakapan menarik saya simak dari radio saat perjalanan menuju kantor. Masalah yang diangkat adalah berpikir positif. Sebenarnya tema seperti ini sudah sering saya dengar dan juga saya baca dari berbagai buku. Tapi penjelasan yang disampaikan melalui radio cukup menarik karena selain dilakukan interaktif juga diberikan contoh-contoh yang mudah untuk dicerna.
Ternyata banyak manfaat yang dapat kita petik dari berpikir positif. Pikiran kita menjadi tenang karena sesuatu dilihat dari sisi baiknya. Saat menghadapi pekerjaan menumpuk dan dikejar dengan dead line, kita menganggap bahwa pekerjaan tersebut suatu tantangan yang akan membawa peningkatan karir yang lebih baik. Satu ungkapan menarik yang saya sitir dari percakapan tersebut adalah motto yang dilontarkan oleh seorang penelpon yaitu ”semangat pagi”. Menurut saya motto ini luar biasa karena memberikan dorongan motivasi yang kuat. Pagi hari adalah saat mulai kita beraktivitas. Semangat yang ditanamkan dalam sanubari kita jelas akan memompa gairah kita untuk mengerjakan seluruh aktivitas kita menjadi lebih baik. Kalau hal itu sudah menjadi kebiasaan akan membuat hidup kita menjadi menyenangkan.
Berpikir positif tentu tidak serta merta meninggalkan kewaspadaan kita. Tidak boleh membabi buta harus juga dilakukan dengan berhati-hati. Misalnya ada orang yang tidak kita kenal tiba-tiba ingin menginap di rumah kita. Dalam pikiran kita pasti akan berfikir siapa orang asing tersebut, kenapa sampai kemalaman dan tujuannya datang ke kota ini mau apa. Kalau kita hanya mengandalkan cara berpikir positif kita beranggapan si orang asing tersebut pasti kemalaman dan tidak punya uang yang cukup sehingga butuh tumpangan untuk menginap. Waspada harus kita lakukan dengan melakukan berbagai hal yang dapat mengurangi kemungkinan terburuk. Bisa saja kita meminta identitasnya, melapor kepada RT dan mengamankan harta-harta kita dari kemungkinan dicuri oleh si orang asing tersebut.
Pernah kejadian yang saya alami mirip dengan contoh yang saya berikan. Saat tengah malam menunggu kereta terakhir dari Semarang yang membawa istri, saya melihat seorang ibu yang kelihatan cemas duduk di ruang tunggu. Penasaran saya hampiri Ibu tersebut. Ternyata dia dari Jawa yang menyusul suaminya yang dinas di Bogor. Berhubung waktu sudah tengah malam maka dia harus menunggu jadual kereta paling pagi untuk pergi ke Bogor. Malam itu terpaksa harus menginap di stasiun. Sambil mendengarkan cerita ibu tersebut saya pandangan saya arahkan di sekeliling. Tidak ada satupun wanita yang tidur di Stasiun. Karena berpikir positif maka saya tawarkan Ibu tersebut untuk menginap di rumah saya. Terus terang tidak sampai hati saya melihat seorang Ibu tidur di tempat yang rawan dengan kriminalitas. Keputusan tersebut akan saya diskusikan dengan istri. Alahmadullilah saat hal tersebut kusampaikan ke Istri ternyata setuju. Satu malam Ibu tersebut mengindap di rumah dan paginya saya antarkan ke stasiun. Namun kewaspadaan tetap saya lakukan. Selain melapor pada ketua RT, saat menginap di rumah si Ibu tersebut ditemani oleh Ibu saya.
Berpikir positif selain membuat hati tenang juga dapat meningkatkan produktivitas kita. Pikiran yang selalu melihat sisi baik dari setiap masalah maka akan mendorong kita bekerja lebih baik. Setiap masalah pasti ada jalan keluar. Setiap sisi buruk sseorang pasti ada sisi baiknya. Setiap ada musibah pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Sebaliknya kalau kita berpikir negatif yaitu melihat sisi buruk dari suatu masalah akan membuat hidup kita susah. Pikiran kita menjadi tidak tenang, takut dan konflik dengan banyak orang. Lebih berbahaya kalau pikiran negatif menguasai kita bisa membuat kita menjadi apatis dan mudah putus asa.
Auditor yang biasa mempratekkan negative thinking untuk melakukan pemeriksaan juga sudah sedikit demi sedikit merubah paradigma tersebut. Saat ini pendekatan yang mereka lakukan pada kliennya lebih kepada mitra kerja dibanding antara pemeriksa dan yang diperiksa. Hasil pemeriksaan yang dilakukan diharapkan dapat memperbaiki kinerja organisasi yang diperiksanya. Namun bagi oknum yang melakukan perbuatan melanggar hukum tetap mendapatkan sanksi sesuai dengan perbuatannya.
Dari acara bincang-bincang di pagi hari tersebut, saya sudah menetapkan dalam hati saya mulai saat ini berpikir postif menjadi motto hidup saya. Tentu dukungan istri dan anak sangat diperlukan. Oleh karena itu sudah sewajarnya kalau satu keluarga menerapkan prinsip ”Semangat pagi” yang dilontarkan oleh seorang penelepon pada diskusi mengenai berpikir positif. Saya yakin dan percaya bahwa kehidupan sayadan keluarga akan lebih bermakna kalau saya bisa menerapkan prinsip ini dengan baik. Semoga.


June 4th, 2008 at 2:48 pm
Para filsuf berujar, manusia adalah apa yang dipikirkannya. Haddist Qudsi menyampaikan bahwa, dalam qadla’ Allah ada sangkaan -sangkaan manusia. Jadi mengapa kita berpikir negatip dan berprasangka negetip, kalau berpikir apa saja bisa menjadi kenyataan?
Bagaimana mekanismenya bisa begitu ?
Sebagai ibu, ketika anak-anak masih balita, kadang timbul rasa khawatir saat mereka meloncat-loncat, berlari-lari yang mungkin menurut kita membahayakannya. Kita membatin, kadang terucap:”Hati-hati nak, nanti ja…..”, Kalimat belum berakhir, jatuhlah anak kita.
Inilah bukti bahwa apa yang kita pikirkan menjadi kenyataan, apa yang kita sangka menjadi keputusan Allah SWT.
Apalagi kualau berpikir itu menyangkut diri kita sendiri. Jalan untuk menjadi suatu realita akan semakin cepat. karena gen kita segera menangkap, mengolah dan memotivasi seluruh potensi tubuh kita untuk menjadi kenyataan, seperti yang kita pikir dan sangka itu.
Selain itu, apa yang kita ucapkan (mungkin juga pikirkan) dicatat oleh Malaikat, tentu akan diperiksa oleh Allah dan akan diwujudkanNya.
Saya dahulunya dibesarkan dalam keluarga yang orang tua saya sangat over protektif dengan mengembangkan sikap negatip thinking pada anak-anak(maap Almarhum Bapak Ibu-Tulisan mengenai ini ada di blog ini juga beberapa waktu yang lalu, dengan judul “Diterima dengan ikhlas, tumor itu justru pergi), tetapi setelah berkeluarga berubah menjadi orang yang positip thinking setelah banyak belajar.
Buku-buku seperti “Quantum Ikhlas”, “The True Power of water”—katanya sudah ada yang menandingi…, ” DNA,Tuhan dalam gen kita”,
” La Tahzan”, sangat bagus dibaca untuk menambah referensi mendapatkan positip thiking itu
Salam kenal mas Heri, nanti malam konferensi lho…
ratih jussac/ ratih kurniasih, sama saja…
June 5th, 2008 at 7:37 am
Mbak Ratih, komentar yang sangat menyejukkan. Betul mbak ibaratnya dalam hidup kita tergantung kacamata yang kita pakai. Kalau kita memakai kaca mata kelabu, segala sesuatu akan tampak kelabu. Hidup menjadi kelabu dan suram. Tetapi kalau kita memakai kaca mata yang terang, segala sesuatu akan tampak cerah. Kaca mata yang berprasangka atau benci akan menjadikan hidup kita penuh rasa curiga dan dendam. Terima kasih atas atas masukan buku-bukunya. Insya Allah saya akan saya cari mbak…
Oh ya salam kenal juga dari saya. Mohon maaf tadi malam tidak bisa ikut mbak.
Heri Ispriyahadi
June 6th, 2008 at 8:26 am
wah… sarapan pagi yang menggugah…
terima kasih atas sharing tulisannya, mata yang tadinya mulai redup di pagi yang sejuk ini karena semalam hujan, jadi kembali terbuka dan bersemangat menjalani hari, mengais rejeki.
SEMANGAT PAGI!!!
June 6th, 2008 at 4:25 pm
Terima kasih juga Kania atas komentarnya. Dengan SEMANGAT PAGI Insya Allah semoga semakin hari kualitas hidup kita semakin baik.
June 7th, 2008 at 10:44 am
Lalu, bagaimanakah kita ber-semangat pagi? Hehehehehe.. ^^
June 8th, 2008 at 8:38 am
selamat pagi…
pagi indah dengan tulisan renyah
terima kasih mas Heri
June 9th, 2008 at 9:17 am
Citra ber semangat paginya dengan membekali diri berpikir positif saat kita mau menjalani rutinitas aktivitas kita di pagi hari. Niscaya hari-hari yang kita jalani akan selalu menyenangkan . Ok Citra.
Untuk mbak Lizsa Anggraeny terima kasih atas komentarnya mudah-mudahan hidup kita menjadi gurih dengan tulisan yang renyah ini he..he..
June 9th, 2008 at 11:46 am
okeey_deeh,hehehehe:D