SEMINGGU TANPA PUTRI
Dea mengayuh sepedanya perlahan. Sesekali angin mempermainkan poninya sehingga ia mesti menyibaknya agar tidak menghalangi pandangan matanya. Udara pagi ini sangat cerah, tapi wajah Dea terlihat kuyu; tidak seperti hari-hari sebelumnya. Masih terngiang di telinganya ucapan Tante Rina tadi pagi, “Putri nggak bisa berangkat hari ini De…Kemarin sepulang sekolah tiba-tiba badannya panas sekali. Malemnya langsung Tante bawa ke rumah sakit, ternyata dia kena Demam Berdarah…Sekarang dia dirawat di….” Dea mencatat nama rumah sakit dan ruangan tempat Putri dirawat. Dea menutup gagang telepon dengan setengah terisak. Bagi Dea, Putri adalah sahabat terbaik yang ada dalam hidupnya. Keceriaannya bahkan bisa membuat Dea yang pendiam jadi bisa tersenyum gembira. Sejak SD mereka sudah berteman akrab. Tidak ada teman yang bisa memahami dirinya selain Putri.
Lamunan Dea buyar ketika dia sudah sampai di depan sekolahnya. Tiba-tiba ia sadar, baru kali ini ia berangkat sekolah sendirian sejak masuk SMP sebulan yang lalu. Jarak rumah mereka yang hanya beberapa blok saja membuatnya selalu berangkat bersama Putri. Langkah kaki Dea tertahan ketika hendak memasuki ruang kelasnya. Sudah ada beberapa anak di dalam kelas. Tiba-tiba Dea merasa asing. Tak satupun dari mereka yang akrab dengannya. Selama ini Dea selalu bersama Putri. Bahkan hanya untuk sekedar ngobrol dengan teman-teman sekelasnya pun Dea harus ditemani dengan Putri, dan selama itu pula Dea lebih banyak diam dan mendengarkan. Dea memang memerlukan waktu yang lama untuk dekat dengan seseorang. Tapi ini baru sebulan Dea masuk SMP. Teman-teman baru dan lingkungan yang baru membuatnya gelisah. Dulu ia tidak begitu merasakannya dengan adanya Putri di sampingnya. Tapi sekarang Putri sedang sakit. Dan Dea harus menghadapi semuanya sendirian.
Dea menaruh tas di tempat duduknya dan memandang sedih pada tempat duduk di sebelahnya. Tempat duduk itu sekarang kosong, padahal biasanya selalu ada tas warna biru muda milik Putri yang ditaruh di situ. Hari ini Dea tidak berkonsentrasi penuh pada pelajarannya. Pikirannya masih ada di tempat lain; rumah sakit tempat Putri dirawat. Sore ini dia berencana untuk menjenguk sahabatnya itu.
*****
Ketika jam istirahat tiba, Dea tidak tertarik untuk pergi ke kantin. Ia lebih memilih duduk sendiri di tempat duduknya dan mulai menggambar kupu-kupu kecil di bukunya. Dea sedikit merasa lebih nyaman melakukan itu daripada harus ke kantin sendirian. Dea memang suka menggambar. Catatannya banyak dihiasi dengan gambar-gambar kecil hasil karyanya. Catatannya menjadi menarik dan membuatnya tidak malas untuk membukanya kembali. Dengan demikian, Dea juga menjadi lebih rajin belajar.
Dea asik sekali menggambar sehingga ia terkejut ketika mendengar suara di belakangnya “Kupu-kupunya lucu banget…” Ia mengenali suara itu. Itu suara Andien, bendahara di kelasnya.
Dea menoleh ke belakang. Sudah ada beberapa anak yang ada di belakangnya. Bukan hanya Andien, tapi juga ada Rere, Nina, Lia, dan Isti. Mereka berlima memang sangat akrab, kemana-mana selalu bersama. Namun mereka tidak membatasi diri mereka untuk bergaul dengan teman-teman yang lainnya. Mereka terus menatap gambar yang Dea buat.
“Kok berhenti sih? Diterusin donk…”, kata Nina dengan suara lembutnya.
Dea bingung harus berbuat apa. Tapi kemudian tangannya mulai digerakkan lagi dan beberapa gambar lucu sudah ada di sela-sela catatannya.
“Kamu pinter nggambar ya…”, ujar Lia, “kalo catatanku sebagus punyamu, aku pasti lebih rajin untuk belajar”, lanjutnya lagi. Wajah Dea merona merah; tidak sadar kalau sedari tadi kelima temannya itu memperhatikan dirinya.
“Aku bisa menggambarkannya untukmu”, kata Dea tiba-tiba.
Lia mengambil buku catatannya dan menyerahkannya pada Dea. Dengan segera, dua kupu-kupu manis berpindah ke catatannya. Lia tersenyum senang, sementara teman-temannya yang lain juga berharap ingin catatannya dihias oleh Dea. Keinginan itu terpancar dari wajah mereka, namun mereka ragu Dea mau melakukannya untuk mereka. Dea tau itu. Sambil tersenyum dia bertanya, “Ada lagi yang mau aku gambarin?”
Wajah-wajah penuh harap itupun menjadi ceria. Mereka mengambil buku catatannya masing-masing. Dea menggambar dengan perasaan lapang. Ia merasa senang hasil karyanya disukai oleh orang lain. Gambar terakhir Dea diselesaikan tepat ketika bel masuk berbunyi.
“Makasih ya…”, kata mereka berlima serempak. Dea hanya tersenyum riang. Entah kenapa sekarang hatinya menjadi ringan kembali.
*****
Di istirahat kedua, tiba-tiba kelima temannya tadi mendatangi Dea.
“Sendirian aja? Putri kemana? Kok nggak berangkat?”, kata Lia
“Dia sakit DB. Sekarang sedang dirawat di..” Dea menyebutkan RS tempat Putri dirawat.
“Kasian dia. Gimana kalo ntar sore kita jenguk dia? Mau nggak?”
Dea mengangguk “Rencananya sore ini aku memang ingin menjenguk dia”
“Yuk…jajan bareng di kantin, sekalian ngomongin rencana ntar sore buat jenguk Putri. Lagian, di isirahat pertama tadi kamu nggak jajan kan?”, kata Nina yang sedari tadi memperhatikan Dea.
Dea mengangguk untuk kedua kalinya. Perutnya memang terasa lapar. Ia berdiri dan menyambut ajakan temannya tadi dengan senang. Tiba-tiba mereka menjadi akrab. Dea tidak merasa asing berada di tengah-tengah mereka karena mereka juga menerima kehadiran Dea dengan hangat.
“Ternyata kamu nggak sombong ya…”, kata Rere tiba-tiba. Mereka berenam sedang menunggu pesanan siomay di kantin.
“Apa?”, kata Dea tidak paham.
“Selama ini kami pikir kau tuh orang yang sombong, tidak mau bergaul dengan teman-teman yang lain selain Putri. Ternyata kami salah”
Dea tercenung. Jadi selama ini temen-temannya menganggap dirinya sombong dan pilih-pilih teman.
“Nggak, aku nggak bermaksud pilih-pilih teman. Aku cuma nggak mudah akrab dengan orang lain. Putri temenku dari SD, jadi aku dah kenal dia udah lama. Sebenernya aku ini….” Dea menghentikan ucapannya. Pak Midi datang dan menyodorkan enam buah piring ukuran kecil; tiga di tangan kiri dan tiga di tangan kanannya; kepada mereka. Aroma siomay yang lezat cepat saja menyebar. Mereka mulai mengambil sendok dan makan dengan teratur tanpa suara berisik.
Dea melanjutkan, “Aku ini pemalu. Susah untuk bercakap-cakap dengan orang yang baru aku kenal. Jadi, kemanapun aku pergi, aku selalu bersama Putri. Karena saat inilah, dia teman yang paling dekat denganku. Dari Putri juga biasanya aku mendapat teman baru. Putri memang periang, nggak sulit buat dia untuk ngedapetin banyak teman.” Dea minum es teh seteguk, kemudian melanjutkannya lagi, “tapi karena itulah aku jadi nggak mandiri. Kemana-mana harus ditemani Putri. Aku bahkan nggak tau kalo banyak teman yang nganggep aku pilih-pilih teman karena hanya selalu main dengan Putri” Dea menunduk. Kenapa hal itu tidak pernah terpikirkan sebelumnya?
“Tapi sekarang kami kan tau kalo kamu sebenernya nggak sombong. Kamu cuma perlu lebih banyak tersenyum dan menyapa”, kata Isti bijak.
Ya, Dea ingat. Dulu Putri juga pernah mengatakan hal tersebut padanya. Tapi Dea tetap saja malu untuk menyapa duluan. Mulai sekarang, Dea akan membulatkan tekadnya untuk lebih ramah pada orang lain.
*****
Sorenya, kelima temannya tersebut menepati janjinya untuk datang ke rumah Dea dan bersama-sama menjenguk Putri. Sebelumnya, Dea sudah memberi tahu alamat rumahnya pada mereka. Mereka berenam bersepeda bersama menuju RS. Mereka langsung bergegas menuju ruangan di mana Putri dirawat.
Kondisi Putri masih belum membaik. Mereka berenam belum boleh masuk ruangan oleh dokter. Jadi terpaksa mereka hanya dapat memandangi Putri yang masih terbaring lemah di tempat tidurnya melalui kaca jendela yang lebar. Tante Rina, mamanya Putri, keluar dan menemui mereka. Wajahnya menunjukkan rasa lelah yang amat sangat. Dari kemarin, tante Rina tidak bisa tidur karena khawatir dengan kondisi putrinya tersebut.
“Terima kasih ya, kalian mau menjenguk Putri. Sayangnya kalian belum boleh masuk. Nanti tante akan sampaikan sama Putri kalo teman-temannya tadi menjenguk dia. Putri pasti akan merasa senang”
Mereka berenam hanya bisa menitipkan salam dan doa agar Putri cepat sembuh.
*****
Dea menghitung, sudah seminggu Putri dirawat di RS. Selama seminggu itu pula Dea belajar mengenai banyak hal. Ia jadi mengetahui betapa berartinya Putri bagi dirinya. Selain itu, ia juga mulai belajar untuk ramah pada orang lain. Efeknya sangat mengejutkan. Orang lain pun berbalik ramah kepadanya. Teman-temannya jadi bertambah banyak; bukan hanya teman sekelas, tapi juga teman-teman dari kelas lain. Dea tau, semuanya itu juga karena dorongan Lia dkk. Ia sangat berterima kasih untuk itu. Satu-satunya cara untuk menunjukkan rasa terima kasihnya adalah dengan menghiasi catatan mereka dengan gambar-gambar yang lucu. Dea tau, ini tidak sebanding dengan kebaikan mereka. Tapi inilah cara yang bisa Dea lakukan sekarang ini. Akhir-akhir ini mereka malah minta diajari cara menggambar dan mulai menghiasi catatan mereka dengan gambar hasil karya mereka sendiri.
Setelah seminggu dirawat di RS, akhirnya Putri diijinkan untuk pulang. Dea gembira mendengarnya. Ada banyak hal yang ingin Dea ceritakan pada Putri. Ia sungguh sangat merindukan saat-saat bersama sahabatnya itu.
*****
Nyaring suara bel sepeda Putri yang khas segera saja membuat Dea terlompat dari kursinya ketika ia sedang sarapan bersama orang tuanya.
“Putri?” Dea langsung berlari ke halaman depan rumahnya. Benar saja, Putri sudah ada di atas sepedanya.
“Yuk berangkat bareng”, serunya sambil tersenyum. Senyum yang sempat hilang selama ia dirawat di RS. Ia melambaikan topi biru muda yang sedari tadi dipakainya.
“Kamu sudah kuat naik sepeda ke sekolah?”, tanya Dea khawatir.
Putri hanya mengacungkan dua ibu jarinya. “Beres”, katanya meyakinkan Dea.
Mereka berangkat bersama. Putri lebih memilih untuk berangkat naik sepeda bersama Dea daripada diantar Papanya naik mobil. Wajahnya memang pucat, tapi ia kelihatan jauh lebih sehat daripada terakhir kali Dea melihatnya.
Begitu sampai di sekolah, Putri memandang sekolahnya dengan perasaan rindu.
“Capek rasanya berbaring terus di tempat tidur. Mendingan berangkat ke sekolah. Aku kangen sama teman-teman sekelas”, katanya lirih.
Dea menggandeng tangan sahabatnya itu. Mereka berjalan bersama menuju kelas. Sebelumnya, mereka harus melewati beberapa kelas lainnya terlebih dulu. Beberapa orang dari kelas lain tampak menyapa Dea. Dea membalas sapaan dari mereka. Putri mengerutkan dahinya.
“Kok mereka bisa kenal kamu?”
“Ntar aku ceritain deh di dalam kelas”
Di kelas pun Dea terlihat akrab dengan teman-teman yang lainnya. Padahal selama ini, Dea selalu tertutup pada orang lain. Kebingungan Putri terjawab dengan cerita Dea.
“Jadi, sekarang kamu baru kan manfaatnya berbuat ramah pada orang lain?”
Dea mengangguk dan tersenyum.
“Sekarang aku nggak canggung lagi untuk memulai suatu percakapan. Menyenangkan sekali rasanya mempunyai banyak teman.”
Putri menunduk dan terlihat sedih.
“Kenapa?”, tanya Dea
“Aku takut nanti kamu berubah. Temanmu bertambah banyak…”
“Terus kenapa? Temanku kan temanmu juga. Lagian, kamu akan tetap selalu menjadi sahabat terbaikku”. Dea memeluk erat Putri. Bel masuk pun nyaring berbunyi. Keduanya tersenyum. Hhmm…seminggu tanpa Putri membuat Dea belajar banyak hal. Tapi Dea tentu lebih senang jika ia dapat melakukannya tanpa harus melihat Putri terbaring sakit terlebih dulu.


May 16th, 2008 at 8:06 am
Annggita, walau alur ceritanya sederhana hemat saya tulisan ini menarik. Gaya bahasa yang mudah dicerna dan pesan moral yang disampaikan akan mudah diserap oleh para pembaca. Oke deh selamat ya