SENGSARA MEMBAWA ZAKAT
Hari ini aku ketinggalan kereta saat akan pulang ke Semarang. Bus menjadi alternatif penggantinya. Perasaaku benar-benar dongkol. Bagaimana tidak? ketidaktahuanku jadwal pemberangkatan kereta membuat aku harus mengeluarkan biaya yang lebih dengan bus. Tetapi kenyataan ini harus kuhadapi jika ku tak ingin ditegur atasan karena keterlambatanku esok hari.
Bus berjalan merayap pelan menembus malam melewati alas roban yang angker bagi sebagian orang. Ngantuk menyerang setelah seharian penuh aku berkutat dengan anakku yang akan seger kutinggalkan sebulan lamanya. Terlelap….menemui mimpi yang tak terselesaikan di dalam bus hingga sebuah sapa kudengar sayup-sayup.Pelan kubuka mata begitu menyadari suara itu berasal dari seorang lelaki separuh baya yang memohon ijin duduk di sampingku. Sedikit aku geser pantatku sekedar memberi ruang untuk lelaki itu. Diam tanpa pembicaraan terjadi diantara kami. Pikiranku kembali melayang ke angan-angan. Ah…sekarang aku bakal sendiri di rumah. Aku akan pergi berselancar di dunia internet setelah tiba nanti. Warnet langgananku segera kan kudatangi. Murah, dan dekat dengan rumah karena aku harus irit biaya. Separuh gajiku telah aku berikan kepada istriku. Seperempatnya untuk membayar cicilan kredit motor. Sisanya untuk hidup di Semarang. Gaji yang aku terima bulan ini belum aku potong untuk zakat. Kata Ustadz, harta yang kita miliki harus kita bersihkan dengan zakat. Harusnya aku harus memotongnya tetapi belum juga aku lakukan.
“Mas, turun mana?”kata lelaki disebelahku membuka pembicaraan.
“Semarang” jawabku
“O, Semarang tho? Saya juga Semarang lho Mas” kata lelaki yang telah kuketahui bernama Widodo itu.
“Turun mana?” lanjutnya
“Turun di Kali Banteng lalu melanjutkan dengan angkot ke stasiun. Motor saya titipkam di sana”Sahutku.
“Maaf Mas, bukannya saya merepotkan tetapi saya terpaksa mengungkapkan ini” Katanya kemudian. Aku penasaran pada apa yang ingin lelaki ini sampaikan. Jangan-jangan…..seribu su’udzon terlintas dalam otak. Astaghfirullah….
“Mas, mohon bantuannya. Saya tidak punya cukup uang untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah saya. Jika Mas berkenan saya mohon sudi kiranya bisa menolong saya. Kebetulan jurusan saya sama dengan Mas, nanti saya ikut Mas hingga Pasar johar”pinta lelaki itu.
Blaik….
Gawat….
Huh…..
Sial….aku diperas nih
Apes deh…sudah keluar uang lebih buat ongkos pulang masih diminta orang lagi. Sumpah serapah keluar tapi tak sempat terucap. Astaghfirullah….
Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Mungkin lelaki ini benar-benar butuh uang Bagaimana jika aku berada pada posisi lelaki ini, oh alangkah sedihnya. Saat dia harus segera sampai pulang ke rumah menemui anak dan istrinya tetapi tidak bisa hanya karena tak punya uang kembali. Selintas aku teringat kisah sahabat Ali yang memberikan roti yang dia dapatkan untuk makan anak istrinya. Padahal saat itu berhari-hari keluarganya tidak makan. Ali rela memberikan makanan itu kepada orang yang memintanya. Ternyata orang tersebut adalah malaikat yang diutus Allah untuk menguji hamba-Nya.Dan Allah menggantinya berlipat ganda. Alangkah hina jika diri ini tidak bisa mengambil teladan tersebut. Tokh, uang di dompet masih cukup. Barangkali ini adalah zakat yang harus aku keluarkan bulan ini. Teringat sebuah nasehat bahwa harta yang kita miliki sebagian adalah milik saudaramu.
“Baiklah Pak. Jika memang begitu keadaanya. Bapak tak usah risaukan hal itu. Nanti Bapak bisa pulang dengan saya” kataku memberikan kepastian kepada pak Widodo.
“Alhamdulillah. Terimakasih Mas, Semoga Allah menggantikannya dengan jumlah yang melebihi dari apa yang Mas berikan kepada saya”
Apakah lelaki ini malaikat yang mewujudkan dirinya sebagai manusia seperti dalam kisah sahabat. Ah…mengapa aku memikirkan hal itu. Yang penting aku sekarang bahagia karena bisa berbagi dengan sesama. bersuka cita karena ternyata aku tidak diperas. Barangkali ini hanya tagihan oleh Allah melalui Pak Widodo karena akau belum mengeluarkan zakat bulan ini. Lahaula Walla Kuwwata. Aku Pasrah Kepada-Mu Ya Allah…..


March 12th, 2008 at 4:40 pm
Mas Estu…
Tolong kalau posting naskah, pakai warna hitam saja, agar gampang dibaca
lalu mohon agar anda mematuhi aturan tentang “pemuatan tulisan dengan format ‘read more’.
info selengkapnya coba baca di bagian cara mengirim tulisan.
maaf tulisannya terpaksa saya edit - secara teknis
thanks
Jonru
March 14th, 2008 at 3:23 pm
thank’s mas jonru.Masukannya.