Serbahuta
Merbau;kota kecil yang terletak di kabupaten Labuhan Batu Sumatra Utara . Di kota yang pantas disebut desa inilah Mala dan Gulmat mulai mengenyam pendidikan SD di pagi hari hingga siang dan sore harinya sekolah Arab (sebutan sekolah Madrasah).
Merbau dilewati oleh sungai Asahan yang besar dan dalam. Di sungai ini banyak terdapat ikan baung besar, ikan kaloi besar dan ikan pahitan yang banyak durinya. Mala dan Gulmat suka memancing ke sungai kalau sekolah Arab libur hari Jumat sore. Mereka memancing dengan pancing buatan sendiri dari ranting pohon bambu dan umpannya cacing tanah.
Membuat pancing dan memasang umpan dipelajari dari bang Musyiran seorang pekerja di kilang padi milik Pak Abduh: ayah mereka. Bang Musyiran mengajari memilih batang bambu yang cocok untuk mancing, ia juga mengajari Mala agar jangan takut dengan cacing.
Kilang padi terletak diluar kota Merbau, di jalan menuju kota Simpang Empat dan arah ke Brusel tempat produksi minyak kelapa sawit dan kebun sawit. Di sekeliling kilang banyak pohon durian, sirsak, kelapa, ubi, papaya, tebu, kangkung dan pohon cengkeh Zanzibar.
Suatu hari disaat usia Mala 9 tahun dan Gulmat adiknya 8 tahun, mereka hendak pergi memancing ke sungai yang terletak di belakang kilang padi, sebelum pergi keduanya diingatkan oleh orang tuanya; jangan main sampai jauh-jauh. Bang Musyiran dan teman-temannya juga memperingatkan agar mereka jangan pergi jauh dari daerah kilang. Tentu saja kedua anak tersebut mengiyakan semua perintah mereka, supaya diijinkan mancing berdua saja tanpa harus ditemani bang Musyiran.
Sesampainya di sungai, langsung mereka memilih tempat memancing di bawah pohon rindang yang menjorok ke tepi sungai, dari bawah pohon itu Mala dan Gulmat memancing. Lama menunggu pancingan belum ada ikan yangkut, padahal mereka berdua sudah berusaha tidak mengeluarkan suara sedikitpun, sunyi senyap dan hanya terdengar riak saluran air sungai di sore hari itu.
Bosan menunggu pancingan dan tidak dapat seekorpun, akhirnya Mala dan Gulmat sepakat memutuskan pergi keluar daerah kilang. Mereka pulang ke rumah meletakkan alat pancing, rumah terletak di sebelah kilang. Dengan jalan mengendap-endap kedua anak kecil itu pergi ke jalan besar, kami berjalan menuju hutan ke arah Simpang Empat.
Rumah Mbah Siti tetangga Pak Abduh sudah dilewati, rumah Wak Uteh juga dilewati, tibalah mereka di hutan rimbun yang banyak ditumbuhi oleh pohon karet, dan pohon-pohon besar lainnya, diatas pohon besar itu ada banyak lilitan rotan, pohon durian hanya ada 2 pohon besar, selainnya pohon pakis kecil yang bisa dimakan dan pakis hutan serta jenis pohon yang tidak kenal namanya.
Tiba-tiba Gulmat melihat di dalam hutan tersebut ada pohon rukam yang ranum buahnya, di sebelahnya juga ada pohon buah langsat dan kaget juga Mala menemukan ada pohon buah manggis.
“ Ayo kita ambil buah rukam yang hitam-hitam itu” kata Gulmat, “ inikan pohon di hutan mana ada yang punya, nanti kita makan di jalan jadi ayah dan mamak tidak tahu kita masuk ke hutan”. Mala agak takut masuk jalan terus menuju ke pohon rukam yang rindang besar dan tinggi, karena adik laki-lakinya sudah maju duluan ia terpaksa mengikuti dari belakang.
“ Hey, hei kalian mau apa kemari?” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita mengejutkan dari arah depan dekat pohon rimbun besar sekali , jaraknya hanya beberapa meter dari pohon rukam. Gulmat menjawab dengan tenang” Kak, kami kemari cuma mau ambek sikit buah rukam itu nyoh, kami capek mancing tadi tak dapat ikan, rukamnya banyak dan kami mau ambek sikit buat makan di jalan pulang ke rumah”.
Mala hanya mendengar percakapan adiknya dengan suara wanita yang tak tampak batang hidungnya, memang ia tidak melihat tubuh wanita yang berbicara itu.
“ Kalau begitu kalian mau ikut aku?” kata suara wanita itu selanjutnya.
“ Aah kakak sudah sore kali ini sudah mau maghrib pula, nanti kami dicari ayah, lain kalilah kami ikut kakak ya” balas Gulmat atas ajakan wanita itu.
Tiba-tiba Mala menarik tangan adiknya dan berujar “ ayo kita cepat pulang”, berdua membalik badan dan balik arah keluar dari hutan tersebut dan keduanya berlari sekencang-kencangnya. Mereka lari menuju jalan aspal.
Terengah-engah akhirnya mereka sampai kembali di jalan aspal, berhenti sebentar lalu lari lagi pulang menuju arah rumah.
Di depan kilang padi sudah nampak Pak Abduh berdiri menunggu anak-anak itu , ada juga bang Musyiran, Bu Abduh dan adik mereka yang masih kecil. “ Dari mana saja kalian berdua, mamak mencari kalian supaya makan durian dan pulut (ketan)” kata Pak Abduh nampak bingung.
“ Ayah, kami tadi masuk ke hutan Serbahuta, disana kami masuk ke dalam-dalam, kami tengok ada banyak pohon buah-buahan; ada rukam, langsat dan manggis” kata Mala pada ayahnya . “ lalu ada suara perempuan yang nanya kami mau apa disana, dan dia juga mengajak kami ikut dia yah” lanjutnya memberi laporan pada semuanya.
“ Tapi, karena ingat cerita Wak Uteh dulu, jadi kutarik tangan adek supaya lari pulang cepat keluar hutan” kata Mala lagi.
“ MasyaAllah ! jadi kalian jumpa sama orang bunian di Serbahuta itu” kata Bu Abduh dengan mata terbelalak. “ Untung saja kalian enggak ditangkapnya dan dibawa masuk ke dunianya, kalau kalian mau ikut … entah apa jadinya”.
Wak Uteh tetangga mereka pernah cerita pada keduanya, di hutan Serbahuta banyak berdiam orang bunian, suara-suara orang bunian sering terdengar, seperti ada suara anak menangis, suara orang menumbuk padi dan suara-suara lainnya. Wak Uteh menerangkan kalau jumpa wanita yang bibirnya rata tidak ada garis belahan dibawah hidung, maka jangan dekat-dekat, wanita itu orang bunian penghuni Serbahuta.
Megara, 23 Agustus 2007


August 23rd, 2007 at 11:03 am
Kenapa ya mbak tulisan yang ini rasanya tidak seperti dua tulisan mbak tati yang sebelumnya… saya juga masih mencari tau tapi rasanya memang ada yang beda.
August 23rd, 2007 at 12:10 pm
He he he inilah salah satu hasil dari kursus menulis dengan Pak Jonru.
Semoga saja dibedah segera.
Kalau Kikie jeli ini sebenarnya kisah nyata.
August 23rd, 2007 at 9:59 pm
mBak Tatik … aku ada usul, bagaimana kalo kita manfaatkan fasilitas dalam “posting” tulisan — ada semacam pembagi berkas, dalam arti yang ditampilkan di halaman utama adalah “lead”nya saja … selanjutnya ngelink ke berkas komplitnya !
Thk!
August 24th, 2007 at 2:11 am
Makasih MasMul maklum gaptek saya, habis filenya saya tulis di word dan ke blog ini saya copy paste saja.
Saya akan coba.
August 24th, 2007 at 8:01 am
Mbak…
Saya kayak kebawa ke pulau saya nih waktu bacanya:D
Dulu waktu kecil suka ditakut2in gini Mbak! Kerasa sweremmnya…!
August 24th, 2007 at 3:19 pm
He he.. udah gede dan kalau jadi emak nanti jgn takutin anak ya?
Ini cerita nyata dan tempatnya masih ada - hanya kilang padinya berubah jadi kebun sawit.
Jangan sampai rohib, belajar rajin ya say.
September 3rd, 2007 at 4:14 pm
diawal cerita datar-datar saja tapi ada muatan lokal budaya/istilah-istilah (saya sering jumpai model ini dalam Novelnya Oka Rusmini, warna balinya kental dan aku suka membacanya jadi sedikit tahu Bali dari Oka Rusmini), tapi diakhir cerita ada kejutan sedikit mengerikan, mungkin bila didramatisir lagi jadi cerpen horor, ini pendapat pribadi mbak tati ya, masih bisa diperdebatkan