SUATU MALAM BERSAMA IBUKU
Segera aku merebahkan tubuhkku di dipan bambu bertikar, dan melingkarkan tubuhku dalam sarung bekas kakakku, membelakangi ibuku. Ibuku mengulurkan tangannya menjangkau diriku untuk mendekapku dalam pelukannya, tetapi aku segera meraih tangannya kembali lalu melepaskan dariku. “kenapa ?” tanya ibuku datar seperti malam-malam lalu, hari-hari lalu yang sudah-sudah. “Tidak !” jawabku tanpa harus menoleh ke arahnya, Sinar temaram lampu sentir turut pula menyembunyikan wajah galau yang kini aku rasakan, rasa galau yang aku rasakan terhadap ibuku nanti, kelak ketika kehidupan ini berakhir. Ibuku yang sudah melahirkanku, memeliharaku dan membesarkanku dan setiap malam memelukku untuk mengantarkanku menjelang pagi. Ibu yang tiap malam selalu membukakan pintu, sesudah aku menghibur diri dengan menonton tivi beramai-ramai dengan anak-anak kampungku di kampung seberang kali sampai film habis hingga larut malam. Nanti di hari terakhir kehidupannya nanti, akan masuk neraka.
Begitu apa yang ada dalam benakku. Masih terbayang dalam benakku ketika hari kiamat tiba, dan gunung-gunung beterbangan seperti kapuk randu melayang-layang ditiup angin. Pohon-pohon tercerabut dari akarnya, air laut mulai mengalir membanjiri kampungku. Gempa bumi yang membelah tanah menjadi dua bahkan lebih dan akan memisahkan aku, ibuku keluargaku dan teman-teman sepermainanku menjadi bercerai berai dengan tujuannya masing-masing. Begitu kata Haji Bakar sore tadi selepas sholat Isya di langgar ujung kampung. Aku menjerit-jerit memanggil ibuku ketika tanganku terlepas dari genggamannya. Terlihat jelas di depan mataku ketika ibuku berteriak-teriak memanggilku dan menahan rasa kesakitan, melambai-lambaikan tangannya, dari neraka dan aku membalas memanggil-manggil namanya dan melambaikan tanganku ke arahnya, dari Surga. Ibuku, yang tidak akan lolos dari ujian pertanyaan malaikat Mungkar Naqir ketika di kubur sana ketika dia ditanya, apa agamamu?, siapa Tuhanmu?, apa kitab sucimu? dan siapa nabimu?. Ibuku tidak bisa menjawab semua dan menerima cambukkan setiap menggelengkan kepala. Sedangkan aku dengan cepat dan tangkas akan menjawab : Islam, Allah, Al-Quran dan Muhammad. Karena aku sudah rajin sholat sedang ibuku dan juga bapakku, tidak.
Pelan namun pasti mataku menghangat, dan keluarlah kebeningan air mata dari segala sumbernya, air itu mengumpul, menggumpal menjadi satu, setelah itu tergelincir, tidak kuat menahan beban, menggelinding mengalir melewati membasahi lembah pipiku. Tarikan nafaskupun mulai terasa berat, tertahan butiran-butiran air yang membasahi seluruh bulu-bulu hidungku. Dan setiap hawa yang kutarik akan menggesek butiran-butiran air itu sebelum masuk ke rongga paru-paruku, dan menimbulkan bunyi khas sebuah kesedihan.
” Kenapa ?”
” Tidak !”
” Si Mamat memukulmu lagi ?”
Akupun diam dan membiarkan ibuku mendapat jawaban dari rekaan-rekaan dalam pikirannya. Aku, yang sudah mengajari diriku untuk tidak menangis ternyata tidak mampu juga.
Tidak adil, Tuhan tidak adil, kenapa ibuku dan juga bapakku akan dimasukkan ke neraka sedang Haji Bakar tidak !. apa bedanya ibuku dan juga bapakku dengan mereka-mereka ? aku kira sama saja !. dan bahkan aku kira ibuku dan juga bapakku seringkali lebih baik dari mereka. Bukankah yang memulai menggelar sila untuk berjudi di gardu ronda tiga tahun yang lalu adalah Pak Bakar, sebelum dia dipanggil Pak Haji dua tahun yang lalu. Dan bapakku tidak pernah berjudi dimanapun dia berada, paling tidak aku tidak pernah melihat atau mendengar orang bercerita. Memang sekarang Haji Bakar tidak lagi bersila di gardu ronda, tapi apakah dia insyaf ? aku tidak tahu. Dan minggu yang lalu Haji Bakar mencolek pantat dan mengusap dada montok Bu Tas, aku melihatnya ketika aku bermain kucing-kucingan dan bersembunyi di balik pagar Bu Tas. Siapa yang selalu memusuhiku, dan memukuliku, jika aku dirasanya berani ?. Si Mamat, anaknya Haji Bakar juga. Dia juga yang selalu mengganggu dan mengoda Musyarafah sampai menangis. Entah mengapa setiap aku melihat Saroh, begitu orang-orang memanggilnya, sesenggukan menangis, dada ini begitu sesak dan ingin membela dan memukuli Si Mamat, tapi apa daya tubuhku terlalu kurus, terlalu kecil untuk menghadapi Si Mamat yang besar dan kuat. Bukankah itu berarti Haji Bakar tidak mampu mendidik anaknya dengan benar. Pendeknya tidak ada hal yang lebih baik antara ibuku dan juga bapakku dengan Haji Bakar dan Bu Haji Bakar. Bedanya Haji Bakar sholat dan sering berkhotbah, sedang ibuku tiap malam jumat membakar dupa dan membuang air bunga di jalan depan rumahku. Aku seringkali diam-diam aku membuang dupa itu dan menendang air bunganya tumpah sebelum besok paginya. Tapi pernah juga aku duduk diam, bersila didekat Ibu yang komat-kamit membaca entah apa seperti doa dan bertanya,
“Mbok baca apa ?” dan hampir Ibu dengan galak menukas,
“Hussss, diam !, anak kecil tahu apa !!”
Tapi pernah juga Ibuku menjawab,” sedang berdoa!” dan aku bertanya lagi,
” untuk apa ?”,
” Agar kamu jadi orang pinter, kaya dan punya istri cantik !” Akupun diam saja, dan terharu, ternyata diantara kegarangan dan kegalakannya, dia ternyata masih memperhatikanku juga. Aku memang sudah terbiasa dengan semuanya. Tidur di dipan bambu tanpa kasur berbantal apek berpeta air liurku dan adikku, atau tidur di langgar
ujung kampung berselimut sarung berbantal tangan. Tetapi aku juga ingin sarapan berlauk telur yang digoreng bukannya sekedar tempe yang digarang . Aku juga ingin punya buku wajib, bukannya menyalin punya Saroh, memanfaatkan waktu ngaso, agar nanti ketika pelajarannya nanti Bu Guru tidak lagi memukul kepalaku karena aku tolah toleh ke teman sebelah. Pokoknya Aku ingin punya yang seperti orang lain punya.
Kata Haji Bakar tadi, kalau sholat kita baik dan diterima Allah, amalan-amalan lain mengikutinya dan tidak dilihat Allah. Nanti Haji Bakar akan mendapatkan surga untuk kedua kalinya, setelah dia mendapatkan sebagiannya di dunia ini, dan aku akan mendapatkan surga untuk pertama kali setelah bersusah payah hidup di dunia ini, dan ibuku, aku merasa ibuku akan mendapatkan neraka untuk kedua kalinya, juga bapakku.
Kokok ayam jantan membuyarkan lamunanku, berarti tidak lama lagi aku harus segera turun dipan dan bergegas ke langgar untuk memukul kentongan dan adzan subuh agar Haji Bakar tidak memaki-maki aku lagi, karena pagi ini, giliranku untuk adzan subuh. Tetapi aku belum sempat memejamkan mata malam ini. Entah mengapa aku mulai tidak percaya dengan yang Haji Bakar katakan.
Sejak itu setiap kali aku tidur dalam dekapan Ibukku, terbayang olehku, Ibu menjerit-jerit, melambai-lambaikan tangannya dari neraka. Dan aku pun memutuskan untuk tidak lagi tidur bersama dan dalam dekapannya, karena bayangan ibuku di neraka selalu menghantuiku.
= =Gang Salak, depok= =


March 19th, 2008 at 9:35 am
Wah ceritanya sangat berkesan Pak..
Tapi kalau boleh usul, spasi antara paragraf direnggangkan lagi, agar kita lebih nyaman membacanya
oke semoga sukses ya…
Jonru