Suatu Siang Bersama Mi Ayam dan Lemon Tea
Hari ini aku memutuskan untuk makan siang diluar. Sedikit tidak biasa memang. Yaahh.. paling tidak bila dibandingkan dengan dikantor sebelumnya, yang walaupun sudah disediakan catering, tapi paling tidak seminggu sekali aku dan teman-teman makan diluar. Kadang makan di kedai makan rumahan yang ada disekitar kantor -maklumlah, kantorku dulu bukan di gedung perkatoran melainkan di salah satu rumah pribadi pemilik perusahaan-, kadang makan di mall yang tidak begitu jauh dari kantor.
Ok.. kembali ke acara makan siangku. Bu Reni, atasanku, sampai heran dan mengira kalau aku ada janji kencan. Dia yang semangat gitu dan segera memberikan ijin. Sementara aku hanya tersenyum. Biarlah beliau artikan sendiri apa arti senyumku itu.
Rupanya Bu Reni bukan satu-satunya orang yang heran dengan rencana makan siang ku hari ini. Anah, perempuan hitam manis dengan pipi berhias jerawat yang telah 3 bulan ini menjadi office girl di kantorku pun ikut heran.
“Tumben mbak?!”, begitu katanya waktu aku menolak tawarannya untuk membelikanku makan siang seperti biasanya.
“Waaaaahhhhhh!! Mau janjian ya mbak?” Ia meneruskan bertanya, sambil mengedipkan kedua matanya dengan genit sebelum aku sempat berkata apa-apa.
Sama seperti tadi, aku hanya memberikan senyum sebagai jawaban. Senyum penuh rahasia. Biarlah Anah menebak sendiri arti senyum ini. Ga ada gunanya juga mengatakan dengan jujur bahwa aku tidak punya janji kencan dengan siapapun. Bahwa makan siang diluar ini hanyalah upayaku untuk mengembalikan moodku yang sedikit ternoda karna ulah beberapa rekan kerjaku. Toh Anah belum tentu percaya. Malah kemungkinannya besarnya adalah dia akan terus bertanya.
But then again.. mungkin baik Bu Reni dan Anah ada benarnya juga. Hari ini aku ada kencan, ada janjian. Hanya saja janjian ini bukan dengan orang lain, melainkan dengan diriku sendiri. Yup..myself. Lagipula, bukankah ada baiknya kita berusaha mengenal diri sendiri seperti kita berusaha mengenal orang lain. Entah itu keluarga, sahabat, atau orang lain. Cara kan sama seperti ketika kita ingin mengenal orang-orang itu. Dengan menghabiskan waktu lebih banyak dengan orang yang ingin kita kenal. Ya kan?!
Bonia di pergelangan kiriku sudah menunjukkan pukul 2 siang ketika aku keluar kantor. Sedikit terlambat memang untuk memulai makan siang. Para perempuan lain di kantor pun sudah pergi makan siang sejak tadi. Seperti yang sudah-sudah, pergi tanpa menyertakanku. Berbasa-basi pun tidak. Padahal dua dari 6 orang itu berpapasan denganku dipantry, tapi tak seorang pun mengatakan apa-apa padaku. Bahkan seseorang yang kukenal baik di kampus dulu, yang juga menawarkan posisi ini padaku ketika aku sempat menganggur karena menuruti emosiku dengan keluar dari TRUSTED, tidak juga membuka mulutnya untuk mengajakku. Apalagi yang lain, yang notabene baru kukenal selama kurang lebih 5 bulan.
Dia, yang kuanggap sebagai teman baik itu, biasanya akan meminta maaf setelah beberapa kali pergi tanpa mengajakku. Alasannya selalu sama, bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak memiliki kuasa untuk menentukan siapa yang bisa dan boleh diajak. Entah itu untuk makan siang atau perkara lainnya. Seingatku, kami –aku dan dia- baru beberapa kali makan bersama tanpa didampingi yang lain. Kebanyakan momen itu terjadi pada bulan pertama aku bekerja disini.
Awalnya aku terharu dengan permohonan maafnya. Lama kelamaan ‘ritual’ itu menjadi hal biasa bagiku. Pergi beberapa kali – minta maaf- pergi beberapa kali lagi – minta maaf, begitu seterusnya. Entah kapan berakhir dan entah apa akhirannya nanti. Apakah dia akan berhenti minta maaf, ataukah mereka yang mulai menyertakanku? Yaahh… hanya waktu yang bisa menjawabnya kelak.
Kadang aku merasa kasihan padanya. Pasti tidak enak rasanya berada di tengah-tengah seperti itu, karna baik aku maupun mereka adalah temannya. Apalagi sekarang kami satu kantor yang walaupun beda divisi, pasti akan selalu berhubungan. Setiap hari selama masing-masing dari kami masih bekerja dikantor ini. Tapi terkadang rasa kasihanku muncul bukan karena posisinya itu, melainkan karena sebagai manusia, dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri dan harus menurut pada mereka. Untuk hal sepele seperti makan siang saja, dia tidak bisa menentukan sendiri, apalagi yang lain. Mungkin inilah harga yang harus dibayar untuk diakui dalam sebuah kelompok atau komunitas.
Kulangkahkan kaki menuju Es Teler 77, setelah sebelumnya berkeliling di Gramedia. Yup!! Gramedia. Sebab buku, adalah salah satu pelarianku dari semua emosi negative yang terkadang hadir dalam diriku. Buku, dengan sejuta kisah didalamnya bisa membuatku melupakan sejenak dukaku. Sayangnya kali ini rasa lapar menghambatku untuk berlama-lama bercengkrama dengan untaian kata-kata dalam buku. Rasa lapar ini menarikku keluar dari kenyamanan berjalan dideretan buku-buku ini. Wajar saja sih. Sejak kemarin rasa lapar ini sudah kuabaikan. Dan rupanya siang ini dia tidak mau mengalah dengan pengabaianku.
Rasa lapar ini pun tidak mengijinkaku untuk terlalu lama memilih restoran., tidak membiarkanku memilih menu dengan tenang. Semua serba cepat dan praktis. Mie ayam dengan segelas lemon tea-lah teman makan siangku. Keduanya tidak membutuhkan waktu lama dalam pengolahannya. Dan pelajaran yang bisa kuambil hari ini adalah Jangan Pernah Mengabaikan rasa lapar karna nantinya ia akan menguat dan mebuatmu kalah.
Keadaan restoran cukup ramai. Di sofa sebelah kananku, terdapat pasangan suami istri bersama batita mereka yang duduk manis di kereta dorong berwarna biru tua. Anak itu lucu sekali dengan kulit putih dan pipi tembemnya.
Disofa sebelah kiriku terdapat 3 orang abg yang sedari tadi sibuk berbicang diselingi senda gurau. Seru sekali kedengarannya. Apalagi yang dibicarakan mereka adalah masalah percintaan. Kalian tahu kan.. cinta adalah topik yang takkan pernah lekang tergerus waktu.
Sementara tepat didepan mejaku, di meja dengan kursi-kursi plastic itu, ada serombongan perempuan yang sepertinya adalah rekan sekerja. Dari mana aku tahu?? Well mudah saja. Dari seragam coklat muda yang mereke kenakan.
Hmmm… kunikmati mie ayamku yang kini berubah warna menjadi merah karena sambal yang kutambahkan didalamnya. Orang lain mungkin akan merem melek membayangkan pedasnya mie ayamku. Tapi aku tak peduli. Selain aku memang penyuka pedas, hari ini aku punya tujuan lain. Aku ingin rasa pedas yang menggigit ini membuatku sibuk sehingga rasa sendiri dan sepi ini tidak menguat. Menguat, menghebat dan memakanku hidup-hidup.
Ya! Saat ini aku merasa sendiri. Bukan karena aku memang sendiri secara fisik ditempat ini. Tapi jauh didalam diriku merasakan kesendirian dan keheningan yang amat sangat. Bahkan ketika saat ini juga, dimana orang-orang disekelilingku teramat sangat sibuk dan ribut. Ada suara tawa keras, kikik tertahan, gerutuan, sendok garpu yang beradu dengan piring atau mangkuk, pelayan yang menawarkan menu. Semua suara itu bercampur menjadi satu. Tetap saja…
Kutambahkan lagi sambal botol yang ada di meja. Kusesap lemon tea yang kupesan dengan sedikit sekali gula. Kunikmati mereka bergantian. Terus bergantian sampai semuanya licin tandas
Tapi, tetap saja….


June 17th, 2008 at 12:37 pm
kirain cerpen, tak tahunya curhat toch
judulnya mie ayam dan lemon tea, tapi larinya kemana-mana.
jadi inget, waktu aku ngantor di warung buncit dulu. mau makan mesti turun gedung. habis makan naik gedung. nyampe ruangan dah laper lagi dech.
tapi klo ada satu orang saja “nyempil” gak mau gabung, pasti aku teriakin. “ayo makan bareng-bareng, biar enak. klo makan sendirian temennya setan loh!”
June 17th, 2008 at 3:14 pm
ceritanya kok mellow banget ya…
June 17th, 2008 at 4:50 pm
Itu hasil curhatan temen temen. Waktu dia cerita, aku coba bayangin aja gimana rasanya. Jadinya kayak gitu
June 17th, 2008 at 5:03 pm
Huweeeee, udah penasaran dari awal, mie ayam sama lemon teanya cuma dibahas satu alinea.. hu hu hu…. (pembaca yang lagi laper ini menjadi kecewa…)
mana lagi laper-lapernya.. huikz..
June 17th, 2008 at 10:23 pm
wah… klo denger ceritanya balik ke kantor perutnya sakit, secara perut kosong dikasih mie+sambal+lemon… yaiyyy aouch!!!!
cerita ttg teman yang baik di kampus terlalu panjang.
aku sih menikmati cerita waktu direstaurant yang bercerita ttg orang2 disekilingnya