SuperIko
“Apa sih salah gua ampe Iko tuh nggak capek-capek ngebuntutin gua terus?”
“Emang salah Iko juga kalau ternyata dia Cuma punya tinggi 160 cm, kulit sawo matang dab rambut keriting kumel.,” jawab Fabi kesal. Aku terdiam mendapati diriku sudah sangat kejam menilai orang lain
‘Tapi, Fab bukan itu masalahnya gua nggak suka sama Iko tapi gayanya itu lo.,”
“Gayanya?” Tanya Fabi bingung
“Iya, gayanya yang kayak Supermen itu. Lo nggak tahu dia sering nyebut dirinya Si Superiko?”
“Superiko?”Fabi bengong * * *Superman mungkin itu khayalan kecil Iko. Tapi sungguh ia tak ada kualifikasi sedikitpun untuk disamakan dengan Superman. Dari jaman Christopher Reeves sampai Brandon Ferh. Tapi pria itu nekat berlaga seperti pahlawan sepanjang masa itu. Bagiku itu tak masalah asal jangan menggangguku.Sayangnya Iko bersikap Bak superman itu hanya untukku seorang
Untukku yang begitu spesial baginya. Terdengar indah tapi kenyataannya tak seindah yang terdengar.
* * *
Beragam aksi sudah dia lakukan untukku. Dia katakana aksi-aksinya itu sebagai aksi penyelamatan. Seperti sekarang ini, sambil menyisir rambut gimbalnya dengan jemarinya mendekatiku yang sedang kebingungan mencari tempat duduk untuk makan di kantin. Dengan sigap dia pergi emndekati teman-temannya di satu meja
“Diri kali!Tasha mau duduk tuh.,” Ucapnya lantang. Dan memang si gimbal itu dicintai teman-temannya, serentaj 5 orang yang duduk di sana langusng berdiri. Kemudian selayaknya seorang bangsawan dia mempersilahkannku duduk ditambah sebuah bonus, kedipan satu maya untukku. Aku duduk sambil mennduk di tengan riuh reda sorak sorai temna-temanku yang menyaksikan “drama romantis” antara aku dan Iko. Mukaku sudah semerah kuah baksoku dan yang kurasakan hanya ingin tenggelam di kuah bakso itu.
* * *
Semakin aku diamkan,semakin kreatif Iko beraksi. Ide-ide gila yang mungkin tak pernah tersalur itu deketika ia salurkan untukku. Radiolokal dikotaku pun bisa menjadi sarana kekreativannya.Seperti waktu itu sepulang sekolah, disaat pikiranku sudah penat karena deadline majalah dinding tak bisa aku capai sehingga banyak protes mengarah padaku. Niatku untuk menenangkan pikiran denga mendengarkan radio favoriku ternyata harus gagal karena superheroku Yang Mulia Tuan Superiko sedang melakukan sebuah aksi penyelamatan untuk menyelamatkan diriku dari kesedihan.
Di radio yang didengarkan oleh satu dari Superiko, begitu katanya sabagi pembukaan.Suaranya memang tak terlalu buruk tapi benar-benar bsia membuat nasibku emnjadi buruk
kota itu dia menyanyikan lagu Fix You-Coldplay.
Untuk Tasya Lane
“Hi Tash!!How are you?You feel good today?”tanyanya sambil tersenyum manias padaku.
“VERY BAD”teriakku kesal dimukanya.
“Kenapa”jawabnya tenag seolah-olahteriakkanku tadi seperti ungkapan curahan hati padanya
“GARA-GARA ELO. GUA KAYA DIIKUTIN MALING.KAYA DITEROR DAN GARA-GARA ELO KECENGAN GUA KABUR..,”teriakku meluapkan emosi yang selama ini terpendams “Kecengan?”tanyanya ingin tahu “Iya gua udah punya orang yang gua suka, Dna gara-gara elo dia kabur kayka tadi.” “Kaya tadi?Emang lo ngecengin Bima.,” tanyanya santai. Sedang aku muali panik begitu menyadari aku sudah kelepasan berbicara. Aku tak bisa menjawab, bibirku kaku dan Iko artikan sikap diamku sebagai kaya Iya “O ya ampun lo naksir Bima. Gua kira lo nolak gua untuk cowok kayak gemana ternyata Cuma Bima doank.”ucapnya santai * * * Tak pernah aku snagka Iko akan semakin menggila saat aku sudha begitu terbuka tentang siapa yang aku inginkan sebagia pacrku. Kalau dulu terornya hanya sebatas kantin kelas sekarang dia sudah melebarkan sayapnya sampai ker rumaku dan hebatnya lagi dia tak segan-segan untuk mampir di rumah walau aku pernah menawrkannya sekalipun “tapi gua haus, Tash. Lo tega kalau gua piangsan.”pintanya padaku. “Ya kan lo bisa beli di warung.,” Tapi Iko memang ornag yang pantang menyerah dia akan mendebat terus perkataanku terus menerus sampai akhirnya aku kalah dan tak ada pilihan lain selain mempersilahkannya masuk Kehebatan sang Superiko tak sampai di sini ternyata dia punya Kharisma tersembunyi yang bisa menaklukkan mamaku yang biasanya protektif menjadi tak berdaya. Tiga jam sudah Iko ada di rumahku dan tak juga mama bersedia meleasnya pulang hanya karena kepandainya dalam hal tanam menanam, sesuatu yang dicintai mama. Akhirnya mamalah yang jatuh cinta pada Iko, Sampai di saat Iko tak lagi dating ke rumah mama memaksaku untuk mengajak Iko dating.Samapi ad acara ancam mengancam memotong uang jajan “Mama mau nanem bonsai jadi cepet bawa Iko ke rumah.!”perintah mamaku * * *Hebat!Sekarang setiap manusia yang ada di sekitarku sudah teracuni kharisma Iko. Selain temanku Fabi yang sudha teracuni oleh Iko dari awal sekaran bagian Ana dan Eva yang tundauk dengan pesona Iko. “Gila dia tuh baik banget, Tas. Biar mukanya Cuma kayak penggorengan gososng tapi hatinya..Wah..”unggap Ana begitu aku duduk di depannya
“Iya dia tuh wise banget Terus lucu. Gara-gara dia gua bisa nyelesain masalah gua sama Farel”tambah Eva lagi yang langusng diamini Ana dan Fabi Aku diam berusah tidak peduli. Ternyata begini cara baru Iko mengikatku. Pandai memang gia tapi aku harus lebih pandai supaua tak terjerat permainannya. Semua yang ada di sekitarku dia dekati untuk mempengaruhiku. Tapi maaf dia gagal! Aku ingin Iko sesegera mungkin menghentikan ini
“Ko,apapun cara lo, keputusan gua sama seklai nggak akn berubah. Mau lo bikin semua orang disekitar gua suka elo, gua tetep nggak bakal suka sama elo.,”teriakku padanya sepulang sekolah. Iko terdiam kaget tiba-tiba aku berondong dengan kemarahan “Lo marah, Tash?”tanyanya polos “IYA LAH. MENURUT LO?kan gua udah bilang gua itu suka orang lain.,’ “Udah tahu Bima kan?”baslanya lagi dengan tenang. Aku mengangguk berusaha menunjukkan hanya Bima yang ada dihatiku. “Lo nggak nyesel Tash. Kehilangan kesempatan jadi cewek gua?.”Mataku hampir copot melihat kepercayaan diri manusia di depanku ini. “Emang lo sehebat apa?.”tanyaku langsung dengan nada menantang. “Ya gua kalahnya paling Cuma tampang kan? Tapi gua punya sesuatu yang elo nggak tahu yang tersimpan di dalam hati gua.,” Aku diam, bingung mau menjawab apa. Tapi enath kenapa perasaanku langusng tak enak dan tak tenang. “Gua ngerti kok. Gua nggak bakal ganggu lo lagi.,”Lalu dia pergi melintas di samping tubuhku yang tiba-tiba berkeringat dingin. * * * Iko memang menjauh tapi ternyata bukan berarti Bima mendekat. Bima tetap tak terjangkau, seperti sekarang aku hanya bisa melihat pria itu menggiring bola di lapangan hijau dari kejauhan. Setiap hari.
Enath kenapa aku takut mendekat pada sosok itu. Aku takut mendekat pada sosok itu. Aku takut ditolak begitu kata Eva. Dan kata Fabi itu karma karena dulu aku jahat pada Iko jadi sekarang aku takut diperlakukan sebagimana aku memperlakukan Iko. Dan terori-teori lain yang entah mana yang tepat
“Tas lo cinta banget ya sama ini tiang. Kok dari kemaren dipeluki terus.,”
Tiba-tiba seseorang berbicara padaku dan berdiri tepat di sampingku. Bisa ditebak siapa orang itu tanpa aku harus menoleh. Walau sudah beberapa waktu aku tak mendengarnya tapi aku masih ingat benar. Aku menoleh sebentar lalu kembali menekuni benda di depanku walau konsentrasiku sudha buyar. “Tash. Maju donk. Ya elo dah kejam sama gua taunya lo nggak berani apa-apa.,’lanjutnya sambil menyenggol pundakku. Aku diam tak bereaksi sampai Iko merasakan dinginnya sikapku lalu pergi. Tapi entah ada magnet apa pundak yang menjauh itu terus kupandangi sampai dia hilang baru aku kembali melihat ke depan dan satu sosok yang tegap sudah muncul dihadapanku “Bima”seruku penuh keterkejutan * * *Walau rasanya kakiku sudah mau copot beralan dari satu took ke took lain tetap saja jiwakudipenuhi oleh semangat yang luar biasa, ini hanya karena satu hal. Ada Bima di sampingku Aku benar-benar senang waktu dia memintaku memilihkan baju yang tepat untuk dirinya. “Yang ini kenapa Bim?.”tanyaku sambil menunjukkan satu potong kemeja bergaris putih. Akhirnya kali ini Bima setuju Aku lelah tapi senag “Thanks`s ya Tash.Next Time kita jalan barenag lagi ya.,”ucapnya lembut sambil mengusap pelan kepalaku. Sampai pipiku bersemu Setelah itu aku beberapakali jalan lagi dengan Bima. Entah kenapa dia tidak juju saja berkata ingin pergi denganku tapi harus dengan alas an ingin ditemani membeli sesuatu.Walau entah kenapa ada hasrat untuk bertanya pada Fabi yang sekarang sednag dekat dengan Iko.,:”Dia baik-baik saja kan?.” * * *Dari aku dating tadi semua temnaku tak henti membicarakan pesta Iko yang akan diadakan sore nanti. Pesta yang aku tidak diundnag sama sekali“Lo diundang kok Tash. Orang kata Iko kalau mau lo boleh dateng,”seru Eva. Tapi walau begitu aku tidka berniat dating ke pesta orang yan tidka mengerti bagaimana cara mengundang seseorang. Mengundang kok lewat orang lain“Nggak.”jawabku singkat setelah tiu aku pergi. Dan hebatnya lagi kepergianku dengan kesal itu sama sekali tidak mengundang perhtaian temna-temanku. Mereka tetap asik membahas pesta Iko dengan sangat gembira. * * *:”Makasih ya Tash.”kata Bima tersnyum melihat kado yang kuberikan untuk”“Tash…”sapanya pelan,jantungku mulaiberdegub kencnag. Aku neabgguk “Gua balik duluan ya.,”sekarnag aku merasa jantungku berhenti berdetak“Tapi…Kita nggak ada acara apa-apa nanti malam?Inikan ulang tahun lo.,”Bima dia sejenak lalu melihatku kebingungan
“Tash..Aduh Gawat kalo begini.,”
“Apanya yang gawat?.”tanyaku kebingungan
“Tas gua nggak maksud apa-apa selama ini. Gua ngajak pergi lo untuk membeli barang-barnag yang ua perluin buat date spesial gua dengan malma ini.”“Date?Terus ngapain lo ajak-ajak gua emang nggak punya temen lain lo?,”tanyaku kesal“temen gua sibuk Tash. Dan elo tiap hari kerjannya Cuma liatin lapangan sambil melukin tiang. Yang gua ajak aja daepida lo nggak ada kerjaan. Aduh gua kira lo bisa ngerti sendiri. Gua dan elo..nggak mungkin lah.,”“Kenapa?”yanaku bingung“Ya gua bukannya mau main fisik ya. Tapi elo dan gua? Gua cowok normal alh.,”Satu pukulan yang pastinya periah aku daratkan ke pipi Bima * * * “Ya duah lah Tash. Ansih banyak cowok lain.,”ucap Eva sambil menenakkanku. Semua setuju dengan Evatapi itu tak mmebuatku tenang sama sekali. “Ya a udah ..nyat kita dating lagi aja. Sekrang kita cabut dulu yuk.,”ucap Fabi. “Lo mau kemana semua?,” “Pesta Iko.,” “Tapi gua kan lagi sedih.,”protesku dengan kesal “Iya..tapi kita kan udah oke begini.,”jawab Eva lagi. Lalu teman-temanku yang penghianat itu bergegas pergi meninggalkanku sendiri. Benar-benar sendirian disaat sedih. Satu jam ..dua jam ber lalu seperti siksaan berat bagiku geram sekali sekarang harus sendirian hanya ditemani tangisku sendiri.Apa ini karma?Apa lagi pembalasan si gimbal itu padaku. Kau hapir tertidur kalau saja hanphoneku tidak berbunyi karena ada pesan masuk. Kuambil dan kubukan pesan itu,dan seketika air matakuiku. leleh turun
Gw udah denger cerita lo dari anak-anak. Tenang aja Tash, gua uadha kerahin anak-anak di pesta gua untuk ngerjain Bima. Gua rasa malam ini dia nggak bisa ng-date deh. Haha..Iko
Aku terpana dan hanya bisa berkata.,:”Iko gua kangen”

