Tak Ada Lagi Hiiii….
Kita tak pernah memesan bentuk wajah, warna kulit, atau pun jenis rambut kepada Tuhan. Andaikan kita bisa memilih barangkali kita tidak seperti ini. Yang pasti aku tahu bahwa aku adalah makhluk terbaik yang pernah Tuhan ciptakan.
Rasanya lama sekali tapi akhirnya hari Minggu yang lalu semuanya telah berakhir. Aku sekarang bahagia dan senang. Aku kini merasa hangat dan menikmati kehidupanku bersama teman-teman. Sejak tulisanku dimuat di salah satu majalah anak, banyak surat dan ucapan simpati mampir di rumah dan di sekolah.
Namaku Aina. Aku dilahirkan dari keluarga kecil di Kubangbungur sebuah dusun di Brebes,Jawa Tengah. Kini aku berada di Semarang mengikuti kepindahan daerah kerja ayah. Tentu saja aku harus rela meninggalkan teman-teman sekolahku di kampung. Berat yang aku rasakan terobati oleh nasehat guru-guruku. Beliau berpesan bahwa kehidupan di kota berbeda dengan kehidupan di kampung. Aku harus pandai-pandai membawa diri dan menyesuaikan dengan lingkungan dan teman-teman baruku. Semula aku membayangkan kehidupan di tempat baruku amat menyenangkan. Aku akan banyak memiliki teman yang memiliki wawasan yang luas. Apa yang aku pikirkan ternyata meleset ketika teror itu terus menghantui hari-hariku.
Ketika itu hari pertamaku di sekolah. Seperti biasanya aku harus memperkenalkan diri di depan kelas. Semua berjalan lancar hingga dari sudut belakang terdengar suara,”hiii…..”. Suara itu terdengar dari seorang anak lelaki. Kulitnya lebih bersih daripada kulitku yang hitam, rambutnya ikal, badannya kurus dan tinggi. Lebih kurus jika dibandingkan dengan aku yang memiliki berat 30 kg. Andang, demikian panggilan anak tersebut. Sejak saat itulah kata ”hiiii….” selalu menghampiri di telinga setiap guru memanggil namaku. Awalnya satu anak, kemudian menjadi lima dan akhirnya setiap anak lelaki di kelas. Bahkan kata ”hiii…” itu diteruskan dengan gelak tawa mereka.
” Anak-anak, ada apa ini? Apa ada yang salah ketika Bapak menyebut nama Aina?” tanya Pak Erik guru IPS ku.
Seperti yang aku duga, Andang adalah anak pertama yang menyeletuk,”Soalnya dia hitam sih,Pak. Kita jadi jijay (jijik) nih…hiii….ha…ha…ha” sambil tertawa terbahak-bahak diikuti anak lelaki satu kelas.
Hari demi hari berlalu. Sindiran itu terus saja kudengar di telingaku. Bahkan kini lebih parah lagi. Tidak hanya anak lelaki di kelasku saja namun kini beberapa kakak kelas ikut-ikutan mengucapkan kata itu. Kadang saat berada di kantin, beberapa ada yang berusaha menghindari aku ketika berpapasan. Bibir mereka mencibir seraya bergumam,”hiiii….”. Uhh…Mengapa harus ”hiiii…..”?
Jika saja aku tidak teringat pesan guruku di kampung,mungkin saat ini juga aku akan pergi jauh-jauh dari sekolah ini. Tetapi mengapa harus aku gubris sindiran-sindiran mereka? Tokh aku sekolah bukan untuk meladeni ejekan dan sindiran tetapi untuk menunaikan kewajiban menuntut ilmu yang akan menentukan masa depanku. Aku akan terus terpejam terhadap kata-kata mereka. Jangan diacuhkan, jangan diacuhkan. Aku harus terus berlalu. Tetapi sampai kapan Tuhan?.
Malam itu aku tak bisa tidur. Majalah anak bulanan pemberian ayah aku baca sekadar menemaniku malam itu.
”Aina, sudahkah kamu membaca halaman 24?”Seru Ibu dari balik pintu kamarku ketika mengetahui aku sedang memegang majalah tersebut. Sudah dua hari majalah ini berada di kamarku tetapi belum genap separuh halaman telah kubaca. Padahal biasanya aku segera menuntaskan bacaan tersebut dalam dua hari. Apakah semua ini terjadi karena ”hiii….” yang terus bergema di otakku?. Ah, mengapa pula aku terus memikirkannya?. Kubuka kembali majalah di tanganku. Berharap ada sesuatu yang menarik di halaman 24 seperti yang disampaikan ibu.
Ikutilah lomba menulis surat kepada Ibu dalam rangka hari Ibu 22 Desember. Pemenang pertama mendapatkan tabungan sebesar 8.000.000. Sebuah judul besar terpampang di halaman itu.
”Aina, ikutlah lomba itu. Kurasa anak kecil berbakti sepertimu mungkin menang. Cobalah!” kata Ibu yang ternyata masih belum beranjak dari daun pintu kamarku.
”Terimakasih Ibu, Aina pasti akan mengikuti lomba ini. Aina minta restunya” seruku sambil bergegas mengambil secarik kertas di sudut meja belajarku. Inilah surat yang aku tulis malam itu.
Ibuku yang baik,
Pertama aku ucapkan kepadamu rasa terimakasihku yang tak terkira. Perjuanganmu melahirkan aku sungguh merupakan budi yang tak bisa kubalas dengan materi. Tetapi ibu, aku ingin bertanya kepadamu. Apakah ibu berdoa atas kesempurnaan fisikku kepada Tuhan saat mengandungku? Tidakkah ibu memohon kepada Tuhan agar aku diberikan kulit yang bersih bukan hitam seperti sekarang ini?. Ibu, jika aku diberi kesempatan lahir kembali maka aku akan memohon kepada Tuhan agar menciptakan diriku dengan kulit yang putih bersih. Aku akan berdoa jika memang Tuhan masih menciptakan aku dengan kulit hitam maka aku ingin sehari saja aku tidak diejek oleh teman.
Salam sayangku padamu.
Satu masa demi masa terlewati. Rasanya lama menunggu kepastian pemenang lomba tersebut. Harapan menjadi pemenang hampir terlupa dari benakku. Keesokkan paginya ayah berada di depan pintu kamar bersama ibu. Sebuah senyuman terlukis di wajah mereka. Hampir satu menit mereka memandangku tanpa bersuara sedikitpun. Tampak ayah memberikan isyarat kepada Ibu untuk meninggalkanku. Kepergian mereka meninggalkan seribu tanya dalam hati. Tidak biasanya mereka bersikap seperti ini. Aku segera bangun dari tempat tidur. Ingat bahwa hari ini aku harus pergi sekolah. Sekolah tempatku mencari ilmu. Sekolah tempatku mendengar beratus kata”hiii….”.
Tatapan itu aku rasakan tidak seperti biasanya. Begitu banyak keanehan yang aku alami hari ini. Di rumah sikap ayah dan ibu, kini di sekolah teman-temanku. Ada yang tersenyum, ada yang hanya diam terpaku memandangku hingga ke ujung koridor kelas. Sekonyong-konyong aku adalah anak baru di sekolah itu.
”Selamat, Aina” sapa Pak Erik sambil menyodorkan majalah yang tak asing lagi bagiku. Majalah yang sama dengan majalahku bulan lalu. Hanya sampul dan judulnya yang berbeda.
”Aina, coba kamu buka halaman 24!” seru Pak Erik setelah aku menerima majalah yang disodorkan kepadaku. Lagi-lagi halaman 24. Halaman yang sama ketika kulihat pengumuman lomba. Rasa penasaran tak terbendung lagi dalam hati. Segera aku buka halaman 24 seperti apa yang disampaikan Pak Erik.
Pemenang I Lomba Menulis Surat Untuk Ibu: Aina dari SD Budi Suci
Sebuah kalimat yang sama besarnya dengan kalimat di halaman 24 majalah yang sama bulan lalu. Mulutku terasa kelu. Tiada kata yang mampu aku ucapkan. Haru dan senang bercampur jadi satu. Aku terus melangkah menuju ruang kelasku dengan mata nanar. Tak terasa air mata mulai menetes di pipi. Bahkan aku lupa mengucapkan terimakasihku pada Pak Erik.
Meja paling depan yang berada tepat di depan meja guru kulihat begitu banyak surat. Meja itulah tempat aku belajar. Kulihat isi kelas, tampak teman-teman memandangku penuh senyum yang berarti. Kata ”hiii…” sebagai kata sambutan ketika aku masuk kelas tak lagi terdengar olehku. Perlahan kudekati meja belajarku dengan hati berdebar. Kuambil tumpukan surat itu satu persatu. Kulihat nama-nama yang tertera di sampul. Sekilas kubaca sebuah nama yang tak asing bagiku. Andang. Kubuka sampul biru yang tertutup rapat oleh lem. Sampul dengan nama Andang sebagai pengirimnya. Kukeluarkan isi surat itu dan kubaca:
Temanku Aina,
Maafkan aku yang selama ini terus mengejekmu dengan kata-kataku. Aku sadar bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan dengan sebaik-baik bentuk. Tidak mungkin Tuhan menciptakan makhluk-Nya dengan keadaan yang tidak sempurna. Kadang kita melihat beberapa manusia cacat menurut pandangan kita barangkali menurut Tuhan sempurna. Tuhan pasti memberikan kelebihan pada kekurangan yang mereka miliki. Sungguh sangat berdosa jika aku mengejekmu karena dengan demikian berarti aku juga mengejek ciptaan Tuhan. Aina, aku harap kamu mau memaafkan kekhilafan kami terutama nama seorang Andang. Kami berjanji tak akan mengulangi perbuatan kami.
Temanmu,Andang.
pic from::www.untuksemua.com


March 8th, 2008 at 11:23 am
Mas Estu… cerpennya bagus banget
Bahasanya juga keren, asyik dibaca.
selamat ya
March 11th, 2008 at 6:38 pm
Thank’s Mas Jonru. Semua ini juga hasil bonus e-mbig nya Mas Jonru.