Tak Lagi Cengeng
Namaku Firman, murid kelas tiga Sekolah Dasar. Aku adalah murid baru di sekolah. Aku senang sekali berada di kelas ini, kelas paling ajaib yang pernah aku alami. Bagiku, memiliki seribu teman masih terlalu sedikit tetapi memiliki satu musuh terlalu banyak untukku. Itulah pesan dari ibu setiap aku berangkat ke sekolah. Oleh karena itu di kelas baruku ini, aku benar-benar menjaga sikapku terhadap semua kawan. Jangan sampai ada satu orangpun yang merasa tersakiti oleh ucapan maupun tindakanku. Ketika teman-teman suka mengejek kepada Khambali, aku tak mau ikut-ikutan.
Khambali adalah teman sebangku denganku. Ia dikenal oleh teman-teman sebagai anak laki-laki yang cengeng. Tak heran jika teman-teman suka berbuat jahil kepadanya. Aku ingat pada sebuah peristiwa, ketika itu pelajaran IPS tentang denah sekolah. Kami diberi tugas oleh Pak Teguh membuat denah sekolah dengan berkeliling di lingkungan sekolah. Secara berkelompok kami mengerjakannya. Khambali termasuk dalam kelompokku. Beberapa menit kami mulai menggambar denah, sayup-sayup aku dengar suara Jaduk di belakang.
“Khambali, gambarmu jelek banget sih!” ucap Jaduk diikuti dengan gelak tawanya. Khambali menjawab dengan suara tangisnya yang keras seperti biasanya. Pak Teguh pun terpaksa harus meredam tangis Khambali.
Ada lagi peristiwa yang membuat Khambali menangis. Ketika itu kami berempat, Khambali, Jaduk, Gilang, dan aku bermain monopoli. Sebuah permainan yang dapat mengasah kemampuan berhitung kami. Lima belas menit lamanya kami bermain. ” Teett…teet…” terdengar bel sekolah tanda jam istirahat telah usai. Kami mulai menentukan pemenang pada permainan monopoli. Dari empat anak yang bermain, Khambali dinyatakan sebagai pemain yang paling sedikit jumlah hartanya. Artinya Khambali belum menjadi pemenang. Rupanya Khambali belum sadar bahwa ini hanya permainan. Ada kalanya menang dan kalah. Khambali pun menangis tersedu sedan hingga pelajaran kami harus tersita waktu karena Pak Teguh mesti meredamkan tangis Khambali.
Siang itu hari-hari belajar di sekolah tampak seperti biasanya. Namun ada satu hal yang luar biasa saat jam istirahat kedua. Khambali terdengar menangis hingga terdengar sampai koridor sekolah. Suara tangisnya membuat siswa yang lewat harus berhenti untuk melihat kelas kami. Tak pelak suara tangis Khambali terdengar makin keras ketika siswa yang melihatnya bertambah banyak di depan kelas. Bagaikan sebuah pertunjukkan Kuda Lumping, makin banyaklah siswa yang bergerombol. Pak Teguh, wali kelas kami lalu mendatangi kelas setelah diberitahu Hanifa tentang masalah Khambali.
“Khambali, ada apa nih?” Tanya Pak Teguh kepadanya.
“Huuuu…..Kinde….huuuu” Tangis Khambali.
“Iya, Ada apa dengan Kinde?”
“Huuu….Kinde mengejek ayahku, Pak. Kata Kinde ayahku hanya seorang tukang parker rendahan yang hanya bisa menyemprit peluit saja” jelas Khambali masih terisak-isak.
“Kinde, kemari!” panggil Pak Teguh kepada Kinde. Wajah Kinde tampak ketakutan ketika menghampiri Pak Teguh.
“Benar apa yang dikatakan Khambali?”Tanya Pak Teguh.
“Benar, Pak” jawab Kinde dengan kepala tertunduk.
“Dengar semua anak-anak. Apapun keadaan dan pekerjaan orangtua, kita tidak boleh mencelanya. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita termasuk biaya sekolah kalian. Hargai apa yang mereka lakukan. Banggalah kalian kepada mereka! Jelas?” terang Pak Teguh kepada seluruh anak.
“Sudah, sekarang semua bubar kembali ke kelas masing-masing. Kinde segera minta maaf kepada Khambali!”
Sejak peristiwa tersebut aku lihat Khambali sudah tidak suka menangis lagi. Ejekan teman-teman tak digubris oleh Khambali. Khambali begitu sabar dan tabah menghadapi ejekan teman-teman.
“Khambali, beberapa hari ini aku lihat kamu tak lagi menangis jika diejek teman-teman. Apa sih yang membuat kamu berubah?” tanyaku pada suatu waktu kepada Khambali.
“Fir, saat itu aku menangis di kamar mandi karena kebelet buang air besar. Rupanya tangisanku itu terdengar oleh Pak Teguh. Begitu aku keluar dari kamar mandi, aku dipanggil oleh beliau. Beliau berpesan kepadaku bahwa aku harus tabah dan sabar menghadapi semua ejekan dan cemoohan. Semua itu adalah cobaan dari Tuhan untuk menguji keimanan hamba-Nya. Aku harus percaya bahwa Tuhan akan menolong orang-orang yang sabar. Kata Pak Teguh, jika aku diejek maka aku harus berdoa kepada Tuhan agar teman-teman mendapat hidayah dan tidak mengejek aku lagi. Dan aku harus yakin bahwa Tuhan pasti akan mengabulkan doaku” Jelas Khambali padaku.
Aku sekarang tahu hal apa yang membuat Khambali berubah. Dan aku sekarang tahu betapa hebatnya kekuatan sebuah doa dan kesabaran. Sekarang teman-teman tak lagi suka mengejek Khambali. Khambali yang cengeng berubah menjadi Khambali yang penyabar dan penyayang kepada teman-teman. Ah, aku iri padamu Khambali.


December 3rd, 2008 at 2:32 pm
Hehehehe.. Cerita anak ya?
Umm.. Tapi kalau cerita anak, jangan ada “contoh” rasa iri.. Kan sayang sekali kalau sampai disalahartikan..
Pesan moralnya baik..
December 4th, 2008 at 10:41 am
hhmm…pesan moralnya bagus.. tapi rasanya agak ganjil jika Khambali tiba-tiba berubah hanya karena sebuah nasehat. Rasanya nasehat tersebut masih terlalu absurb untuk diterima oleh jiwa anak-anak.
Tapi secara keseluruhan tulisannya asyik untuk dibaca hanya saja kurang enak pada bagian …
“Fir, saat itu aku menangis di kamar mandi karena kebelet buang air besar. Rupanya tangisanku itu terdengar oleh Pak Teguh. Begitu aku keluar dari kamar mandi, aku dipanggil oleh beliau …
`kebelet buang air besar` rasanya agak dipaksakan
ok.. selamat berkarya
December 4th, 2008 at 5:30 pm
Nice story. Tapi kata-kata yang diucapkan Khambali kok rasanya ‘dewasa’ sekali ya?
December 9th, 2008 at 10:46 am
Subhanalloh…
Aku cuman pingin nanggepin kalo tulisannya amat bagus. Dek Firman kayak orang tua saja.
Dek, meski Mas Iman doyan nulis saat masih kecil, tapi ketika Mas Iman masih duduk di kelas 3 SD, Mas Iman belum bisa nulis sebagus itu. Salut deh buat Dek Firman..
December 9th, 2008 at 11:17 am
Eh, maaf.. ini cuman cerita buat anak-anak tho?? Bukan Firman betulan yang nulis? Maaf, maaf. Mas Iman tidak tahu, jeh..
December 18th, 2008 at 1:41 pm
Dear Estu,
ini pesannya keren. Bagus.
Tapi bahasanya, untuk anak-anak kayaknya masih bahasa orang dewasa… coba deh, tengok komik-komik dan cergam anak dari penerbit untuk anak-anak. Dan mungkin perlu lho, sedikit penelitian cara anak2 bercerita, caranya ya deket anak-anak.