Teguran di Peron
Belajar itu tidak pernah memandang usia, waktu dan tempat kan?? Apalagi jika belajar tentang kehidupan. Rasanya tidak ada aturan baku yang mengikat. Siapapun bisa menjadi guru. Teman, rekan kerja, sahabat, anak, istri, suami, bahkan orang-orang yang tidak kita kenal bahkan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Bukankah begitu?! Jika Anda belum mengalaminya, ijinkan saya berbagi pengalaman saya ketika mendapatkan pelajaran dari orang lain.
Setiap kali pergi dan pulang kantor, saya selalu menggunakan jasa kereta api. Buat saya, itu lebih cepat dan tentu saja sedikit lebih murah daripada naik kendaraan umum yang nantinya akan memakan waktu berjam-jam. Walaupun tidak dipungkiri bahwa angkutan kereta ini pun rawan keterlambatan. Tetapi untuk saya, masih lebih baik daripada bermacet-macet ria di jalan raya.
Singkat cerita, suatu hari di bulan Ramadhan tahun lalu, sepulang kerja, ketika menunggu kereta, seperti biasa saya menyempatkan diri untuk membeli lepet pada emak, seorang nenek yang setiap 2 hari sekali mangkal diperon stasiun. Emak hidup sebatang kara setelah ditinggalkan suaminya berpulang. Ditinggalkan tanpa anak, tanpa harta. Jadilah ia harus berjuang keras menghidupi dirinya sendiri.
Malam itu saya sedikit heran, kenapa dia ada di peron. Bukankah kemarin saya sudah melihatnya berjualan. Mestinya kan baru lusa saya akan melihatnya di stasiun ini lagi. Karena memang begitu jadwal jualannya, 2 hari sekali. Maka sambil memilih lepet yang saya inginkan, saya pun menanyakan hal itu padanya.
Dengan kalimat sederhana yang kadang campur aduk antara bahasa Indonesia dan bahasa sunda, emang mengatakan bahwa dia harus mengumpulkan uang agar bisa membayar zakat. Anda tau bagaimana perasaan saya saat itu?? Saya terharu, sekaligus merasa tertampar.
Bagaimana tidak?! Seorang emak yang hanya mengandalkan hidup dari berjualan lepet yang hasilnya tidak seberapa dan tidak menentu itu (bayangkan saja 1 buah lepetnya itu hanya ia hargai 250 rupiah. Bandingkan dengan gorengan yang sudah mencapai 500 rupiah per buahnya), belum lagi harus bersaing dengan penjual lain yang usianya jauh lebih muda darinya. Ia masih berusaha untuk bisa membayar zakat. Bukankah seharusnya ia yang menerima zakat??
Sebelum saya bertanya lebih jauh, emak menjelaskan bahwa dia malu kalau tidak bisa zakat. Kenapa dia sampai malu?? Katanya, walaupun hasilnya tidak seberapa, dia kan masih bisa menghasilkan uang sendiri. Dia tidak pernah minta pada orang lain. Kalau memang ada yang memberi, ia akan terima, tapi ia tidak akan meminta.
Tanpa sadar saya membandingkan emak dengan salah satu kerabat saya. Usianya masih muda. Sudah berpenghasilan pula. Tetapi dia tidak pernah peduli dengan urusan zakat fitrah ini. Setiap tahunnya, orang tuanya yang membayarkannya untuk dia. Pantaskah??
Padahal, hampir tiap ada hp keluaran terbaru, dia akan ganti hp. Tiap ada film baru di 21, dia tidak pernah ketinggalan. Belum lagi hobinya untuk mengutak atik motor. Sungguh seharusnya dia malu. Bahkan saya pun malu. Karena terkadang bunda mengingatkan saya agar menyegerakan kewajiban saya itu. Tidak perlu nunggu sampai libur untuk sekedar ke masjid dan menunaikannya.
Belum puas rasanya saya berbincang dengan emak malam itu. Tapi apa mau dikata, kereta yang akan membawa saya kembali ke rumah, sudah datang. Dengan dada sesak dengan beragam perasaan, saya tinggalkan emak disalah satu sudut peron. Jam sembilan nanti, dia baru berkemas untuk kembali ke tempat tinggalnya yang sepi tanpa siapapun yang menungguinya kembali dari berjuang.
Sepanjang perjalanan pulang, saya memohon ampun pada Allah. Sepanjang perjalanan itu pula, saya berterima kasih, karena DIA YANG PENGASIH, masih menegur saya dengan cara yang teramat halus.


June 17th, 2008 at 8:58 am
suit, suit… tulisannya kian melaju oi…
tersentuh hatiku dibuatnya.
biasa terjadi, dalam perjalan pulang atau pergi kantor. ibu² ataupun bapak², juga remaja dan remajinya lebih asyik berumpi ria. jarang yang mencoba memanfaatkan situasi untuk mengasah empati.
sama kok, aku juga naik kereta. tapi lebih sering main gaple daripada mempertajam naluri.
membaca tulisan ini, jadi malu
th’s ya, udah diingetin.
June 17th, 2008 at 5:16 pm
Yuk ayuk, kita berusaha untuk menyongsong hari esok dengan lebih baik!! Semangat yaaa!! Ditunggu tulisan-tulisan berikutnya!
June 17th, 2008 at 10:31 pm
Yup.. seperti itulah ‘home schooling’ belajar dari apa yang ada disekitarnya…