Telepon Danish
“aduh… Sita kenapa telpon melulu sih, pasti karena suka sama Danish.” Omel Danish sambil tetap saja mengakat dan menerima telepon dari Sita. “Iya… aku sekarang masih di rumah. Iya… nanti kita ketemu di Hotel PIM.” panjang lebar aku dengar Danish ngobrol dengan Sita. Aku hanya bisa tersenyum sendiri melihat tingkah laku anak lelakiku yang baru berusia 4 tahun itu. sehari itu sudah beberapa kali dia mengobrol dengan sita di telepon. Hasyim… tiba-tiba Danish bersin, secara reflek tanganku meraih kotak tisu yang sedari tadi di pegangnya. “Umi, jangan!” protes Danish. “Ini kan telepon Danish.” “Iya, maaf ya, sayangku, buju-bujuku.” sahutku, sambil pergi mengabil tisu dari atas meja, untuk mengelap ingus yang sudah hampir sampai ke mulutnya.


September 5th, 2008 at 9:52 am
hai kania ….salam kenal yaa..aku juga sedang belajr menulis .walaupun sekenanya aja…tetap semangat ya…..!!!!
September 5th, 2008 at 7:47 pm
Yeileehh… Danish, Danish.. kotak tissu kok dibilang telepon sih… Eh, ceritanya masih bersambung atau sudah selesai ya?
September 6th, 2008 at 12:42 pm
Hmm… yang ini aku dulu kayaknya udah pernah baca? Atau perasaanku aja?
(sama seperti pelabuhan terakhirnya Pak Heri, kayaknya dulu udah pernah di post?)
September 17th, 2008 at 12:50 pm
Dear Lita,
sedikit nanggepin Lita, kayaknya naskah ini sama penulisnya diposting lagi biar Lita koment lagi hehhehe:)
Kinoysan
September 17th, 2008 at 12:51 pm
Dear Kania,
yach tulis aja sehari2 yang ringan, tapi nulisnya jangan pake salah2 ketik ya… sepele tapi fatal lho di media…
Kinoysan di Gramedia Matraman
Jumat 19 Sept jam 4-6 sore