tetangga.. oh.. tetangga..
Hari Minggu. Waktunya bermalas-malasan. Duduk santai di teras sambil mengangkat kaki. Ditemani secangkir teh hangat dan sebuah harian pagi. Wuaahhh… uenaaakk tenaan!
Tetangga sebelah kanan tidak kelihatan batang hidungnya. Tampaknya mereka keluar rumah sejak pagi. Sebelah kiri masih berupa kavling kosong. Tetangga depan rumah agak ke sebelah kanan asyik mengguntingi tanamannya. Rupanya Minggu pagi itu dia sedang tidak ada jadwal ‘terbang’. Tetangga persis di depan rumah sibuk bermain-main dengan air. Gosok-gosok. Sikat-sikat. Mobilpun perlu dimandikan supaya tidak kalah bersih dengan pemiliknya. Tetangga depan rumah agak ke kiri memilih bercengkerama dengan vacuum cleaner. Sedot sana. Sedot sini. Mobil bersih nyaman dikendarai.
“Hei.. perempuan tidak tahu diri! Keluar kamu! Tidak punya malu! Perusak rumah tangga orang! Ngaca dong!”
Saya mengangkat wajah dari artikel ‘Parodi’ yang tengah saya baca. Saling bertukar pandang dengan para tetangga yang juga menghentikan kegiatannya. Teriakan-teriakan itu kembali terdengar dari rumah paling ujung. Kali ini lebih riuh diiringi dengan gedoran pagar.
Tanpa aba-aba kami bergegas menghampiri rumah yang baru beberapa minggu dihuni. Astagaa… pemandangan yang tampak mengingatkan saya pada sebuah adegan yang pernah ditayangkan di infotainment.
Pintu pagar dan pintu rumah terpentang lebar-lebar. Tiga orang terdiri dari seorang perempuan separo baya bersama anak laki-laki dan perempuannya sedang mengobrak-abrik isi rumah. Keadaan di dalam rumah tampak centang perenang. Isi lemari pakaian berserakan di halaman. Dari mulai kemeja, celana panjang, kaos sampai pakaian dalam. Laki-laki separo baya yang menghuni rumah itu hanya bisa mematung. Posisi tubuhnya melindungi seorang perempuan muda yang berdiri di belakangnya.
Usut punya usut, ternyata yang melakukan penyerbuan itu adalah istri sah dan anak-anak dari laki-laki penghuni rumah itu. Yang menjadi sasaran kemarahan siapa lagi kalau bukan perempuan ‘simpanan’ si ayah yang usianya ternyata lebih muda dari putri bungsunya.
“Ada-ada saja..,” gumam saya sambil berjalan kembali menuju rumah.
“Ada-ada saja..,” kata salah satu tetangga yang berjalan di belakang saya. “kenapa mereka tidak tinggal di apartemen saja ya? Kalau tinggal di apartemen kemungkinan mengalami ‘penyerbuan’ seperti ini kan kecil.”
“Masalahnya uangnya gak cukup buat bayar sewa apartemen,” kata yang lain.
“Ya selingkuhnya ditunda dulu sampai uangnya cukup buat sewa apartemen.. HA.. HA..HA..”


July 16th, 2008 at 7:48 am
Waduh….rame dong, kayak serangan halimah dan anak-anaknya ke rumahnya Mayang he..he…
Anyway, cerita ringan yang diambil dari kehidupan sehari-hari namun kemasannya menarik menjadi tulisan yang enak dibaca lho.
July 16th, 2008 at 10:38 am
wah, kacau tuch orang. belum kenal salwangga koq selingkuh. mesti belajar banyak tuch orang dari sal.
tapi, bolehlah sal bocorin tip disini. itung-itung berbagi sesama siswa SMO. dijamin cespleng, anti labrak, anti gusur, anti damprat, anti pecah rumah tangga.
pertama perlu diinat adalah, jangan sampai dibawah kerumah. serapat apapun, pasti kecium dech baunya. akur?
kedua, jangan sampai berhubungan malam hari. justeru lebih aman siang hari. sesuatu yang ditutupi, justeru mengundang kecurigaan. santai aja, biarkan semua orang melihat.
ketiga, ini paling penting. lakukan segala sesuatu dari bergandengan, bercumbu, sampai guilng-guling bahkan piting-pitingan di lapangan yang berumput hijau. dijamin dech, pasti pasangan yang satu ini tidak banyak komentar.
itulah, tiga tip jitu berselingkuh ria dengan KAMBING.
July 16th, 2008 at 10:57 am
Wadooohhh,, Mas Sal tega beneerr.. Daripada selingkuh dengan kambing lebih baik kambingnya dipotong buat bikin sate dan gulai, setuju?
Thanks ya, Mas Heri dan Mas Sal udah komentar, yang lain pada kemana yak?
July 16th, 2008 at 3:53 pm
Yang lain pada ikutan ngelabrak toh Lita…
Boleh tuh, selingkuhannya Sal kita bikin sate.. gulai.. pesta kelas SMO III!
August 6th, 2008 at 9:07 pm
Kalimat marah dan emosi nggak bakalan sepanjang ini.
“Hei.. perempuan tidak tahu diri! Keluar kamu! Tidak punya malu! Perusak rumah tangga orang! Ngaca dong!”
Bisa aja bikin, “Heh, Sundal! Keluar lo! Berani adepin gue!”
Udah cukup. Irit bahasa, irit kertas, irit biaya produksi, dan harga buku bisa ditekan… yach, meskipun nggak gitu2 amat sih, tapi menulis juga harus efektif…
Nggak seru di belakangnya. Saya bayangin akan heboh dan dramatis banget, ha gimana di depan aja udah ada orang ngelabrak kok belakangan memble cuman omongin soal biaya apartemen mahal, suruh aja pindah ke apartemen bersubsidi….
Penulis harus jeli dan tanggap dengan segala perubahan ya, jangan nulis tapi udah jadul nggak tau apa-apa.