Tetap ganteng, kok!
Rambut adalah mahkota. Hal itu berlaku bukan hanya bagi wanita tetapi juga pria. Creambath, hair spa, hair masker, hanya sebagian dari beberapa perawatan rambut. Tidak harus pergi ke salon untuk mendapatkannya. Di rumahpun bisa. Tinggal membeli bahannya yang dijual bebas di supermarket atau minimarket. Harganya bervariasi. Dari yang ringan di kantong sampai yang menguras isi dompet. Tergantung merk dan kwalitas. Selain perawatan diatas, ada pula hair coloring atau pewarnaan rambut. Yang inipun bisa dilakukan di rumah. Hanya saja sedikit lebih repot dan memerlukan latihan untuk bisa melakukannya dengan tepat seperti yang diinginkan.
Tujuan hair coloring ini tidak hanya sekedar mengikuti trend mode warna rambut. Ada pula yang melakukannya untuk menutup uban. Bukan hanya kaum hawa yang melakukannya tetapi juga kaum adam. Apalagi sekarang ini kaum adam tak malu-malu lagi melakukan perawatan mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Beberapa hari yang lalu saya bertemu salah seorang tetangga. Saya sibuk menebak-nebak mengapa ia terlihat ‘aneh’ di mata saya. Akhirnya saya tahu bahwa rambutnya yang tak lagi berubanlah yang membuat saya merasa ‘pangling’. Sebelumnya saya terbiasa melihatnya tampil dengan rambut yang sudah memutih sebagian.
“Gue perhatiin, bapak-bapak sekarang tidak suka menampilkan rambutnya yang sudah beruban. Kenapa ya?” tanya saya.
Sebuah iklan baru saja berlalu dari layar televisi yang sedang saya tonton bersama seorang teman. Menampilkan sosok politisi yang sedang membangun pencitraan diri. Rambut hitamnya tersisir rapih. Keadaan rambutnya itulah yang mengingatkan saya pada insiden ketika saya bertemu dengan tetangga saya itu.
“Gak keren dong..,” jawab teman saya. “Kalau ubanan kan kesannya tua banget. Gak ada lagi pesonanya. Lagipula kita dibolehkan mewarnai rambut asalkan selain warna hitam. Jadi gak ada salahnya kan?”
Yaa.. memang tidak ada salahnya. Kemudian ingatan saya melayang pada sebuah iklan yang pernah ditayangkan di televisi swasta. Menceritakan tentang seorang ayah yang mengantarkan putrinya ke gerbang pernikahan. Sosok ayah ditampilkan dengan pas. Bertubuh sedikit gemuk. Rambut hitamnya sudah bercampur dengan rambut putih. Senyum tersungging di wajahnya yang mulai dihiasi kerut merut.
Yang tertangkap oleh pemirsa adalah sosok ayah yang ‘ayah banget’. Sabar, arif, bijaksana, mengayomi. Kesan itu tidak akan tertangkap kalau sosok si ayah ditampilkan dengan rambutnya yang hitam total.
Bukankah setiap rentang perjalanan usia mempunyai pesonanya sendiri? Yang terpancar melalui pembawaan dan sikap. Yang didapat lewat tempaan pengalaman hidup sarat makna. Kalau memang sudah waktunya beruban, ya.. biarkan saja. Toh, ‘kegantengan dari dalam’ lebih berarti daripada penampilan luar kan?
Jadi mengapa tidak dibiarkan saja apa adanya? Percaya deh, tetap ganteng kok!


August 25th, 2008 at 12:11 pm
kadang2 ga bisa gitu ta,,,tuntutan profesi kadang2 menuntut kita jadi bunglon,,,,
tiap orang punya cara pandang beda tentang dirinya…..ya ga??
kadang2 orang lebih mudah ngeliat kecantikan luar daripada inner beauty ,,,,ya ga??
hehehe,,,
August 25th, 2008 at 1:49 pm
ha..ha..ha..ha… orang-orang pada ribut dan gak pede sama uban. uban sal udah banyak, justeru bangga. tanpa tedeng aling-aling. nih, lihat! kelihatan kan?
urusan magkota-mahkotaan, sal gak begitu pusing. lebih enjoy potong rambut plonthos alias botak. irit sampo, praktis. meski kepala benjol sana-sini. enjoy abiz men…. botak is my idol. hanya saja, kasihan juga sich tukang sisir. udah lebih 10 tahun sal gak nyisir. berkurang satu deh pembelinya. botak gitu loh.
sal lebih cenderung ke : tipis dada, gedhe nyali plus doyan prestasi. ketimbang kekar, tapi sebatas mata.
pernah juga sih, teman bilang “sal, uban lw banyak amat! gila, umur lw berapa sih?”
“tiga puluh. uban ginian, makin banyak makin bagus. jalan malem gak perlu lampu. di kuburan jadi penerang”
so, hidup uban!
eh lita, maksudnya. hidup lita…! (emang masih hidup kan?)
August 31st, 2008 at 8:24 pm
Huahahahahaha, jadi merasa sedikit bersalah, telah nyabut-nyabutin uban bokap setiap kali beliau ‘meleng’ ha ha ha ha…. (upss, sudah agak lama diriku tak mampir-mampir ke sini.. jadi rinduuu)
September 3rd, 2008 at 12:43 pm
Dear Lita,
nice story…. hal2 kecil, yang sering tak diperhatikan tapi diributkan banyak orang….
Kinoysan