The Kid, The Song and The Odong-odong
Jujurlah padaku bila kau tak lagi suka
Tinggalkanlah aku bila tak mungkin bersama….
Tanpa sadar, dengan sangat fasih saya melafalkan bait-bait lagu Jujur yang dibawakan oleh Group Band Radja. Saya tertawa sendiri. Saya bukanlah penggemar Radja terlebih lagi saya juga bukanlah orang yang mengikuti perkembangan musik di Indonesia dengan baik. Lagipula saya termasuk orang yang sangat jarang mendengarkan radio. Lalu, kenapa saya bisa dengan sangat fasih melantunkan lagu-lagu Radja!
Yup! Tak salah lagi, asal muasal dari semua ini adalah gara-gara Tukang Odong-odong!
Pasalnya, setiap Sabtu dan Minggu, saat saya libur kerja, Si Tukang Odong-odong itu selalu mangkal di depan rumahku. Dan ciri khas dari odong-odong yang ‘dikendarai’ oleh –sebut saja Si Ujang- ini adalah memutar lagu-lagu dari Band Radja. Dan yang bikin nggak nahan adalah sound system yang dipakai si Ujang ini mantap kalee…Rasanya seperti Radja benar-benar sedang mengadakan konser di depan rumah saya.Dan Si Ujang ini bisa mangkal di depan rumah saya sampai satu jam. Kebayang’kan gimana saya nggak jadi hapal sama lagu-lagunya Radja!
Meski tukang odong-odong yang sering lewat di Komplek Perumahan tempat tinggal saya itu bukan cuma si Ujang, namun entah kenapa si Ujanglah yang paling dinanti-nanti oleh ibu-ibu dan anak-anak di tempat saya. Pokoknya kalau dari jauh udah samar-samar terdengar vokalnya Ian Kasela, berarti Si Ujang sudah dekat dan artinya ibu-ibu siap berebutan posisi supaya anaknya bisa naik duluan odong-odongnya Si Ujang itu. Kadang saya suka sebel juga sih, karena di depan rumah saya kerap ramai oleh tangis dan teriakan anak yang tak sabar dan belum kebagian naik odong-odongnya Si Ujang ini
Padahal kalau dilihat-lihat, tampilan ‘dagangan’ Si Ujang ini nggak beda jauh sama tukang odong-odong lainnya.
Ada kuda-kudaan yang bergerak naik turun yang digerakkan oleh si Tukang odong-odong serta musik penghibur sekaligus indikator durasi lamanya bisa menaiki odong-odong. Tarifnyapun sama, satu lagu Rp1000,-. Mungkin bedanya cuma satu, musik yang diputar oleh tukang odong-odong yang lain adalah lagu anak-anak, sedangkan si Ujang biasa memutar lagu-lagu Radja.
Saya sih tidak tahu pasti apakah Si Ujang ini memang fans-nya Radja atau bukan, tapi yang pasti, taktiknya memutar lagu-lagu Radja terbukti ampuh menarik perhatian orang yang dituju yaitu ibu-ibu dan anak-anak balita.
Nah ini anehnya, sambil menaiki odong-odong, anak-anak balita itu tak jarang ikut mendendangkan lirik lagu yang diputar walaupun pengucapannya belum jelas.
Saya sih hanya kepikiran saja, apakah anak-anak balita sekarang selera musiknya seperti itu yaitu lebih suka musik orang dewasa daripada musik anak-anak? Kadang suka aneh juga sih musik anak-anak yang diputar oleh tukang odong-odng itu. Musik anak-anak tapi diremix jadi kadang kedengerannya nggak beda jauh sama musik housemusic untuk ajep-ajep.
Saya juga kepikiran kalau suatu saat nanti, odong-odong bisa menjadi bagian dari cara mempromosikan musik band-band yang belum terkenal. Kalau selama ini kita mengenal cara yang canggih dengan teknologi internet seperti melalui website Myspace atau Youtube untuk mempromosikan musik, kenapa tidak odong-odong juga digunakan sebagai sarana promosi tersebut. Karena tidak semua orang mempunyai komputer dan internet. Tapi lewat odong-odong, musik bisa terdengar di mana-mana dan langsung bisa dinikmati oleh orang banyak.


August 27th, 2007 at 12:58 pm
hai mbak yuyun…
baru muncul langsung borongan nulis ya, isinya juga menarik-menarik
August 28th, 2007 at 1:00 am
iseng aja Mbak Ki.. mumpung ada waktu sekalian latihan… soalnya masih culun nih nulisnya .. kalo lagi repot boro-boro sempet nulis..
March 18th, 2008 at 7:06 pm
Hi, mbak kiki. Lam kenal. Judulnya unik banget