Transisi PTN-PTS
Saat berbincang dengan seorang dosen sebuah PTN ternama di Jakarta, saya tidak percaya, ketika beliau bilang bahwa salah satu PTN ternama di Bandung hanya menerima mahasiswa baru sejumlah 18% lewat jalur SPMB, sisanya mahasiswa diterima lewat jalur khusus yang biayanya jauh lebih mahal. Beliau mencari tau karena salah satu puteranya akan memasuki bangku kuliah dan ingin kuliah di Bandung. Sudah tidak efektif lagi untuk memasukkan puteranya lewat jalur khusus karena persaingannya tentu akan jauh lebih berat, karena pengurangan penerimaan mahasiswa lewat jalur SPMB, beliau bilang. Harus menyediakan uang sekitar 60 juta untuk memasukkan puteranya ke PTN di Bandung, meski beliau tau kalau puteranya prestasinya bagus di SMU, tapi mengingat daya saing yang cukup tinggi, beliau baru akan tenang kalau bisa mendapatkan uang 60 juta untuk memasukkan puteranya ke PTN yang dicita-citakannya. “Uang itu saya dapatkan dari mana ya?, saya kan cuma seorang dosen yang tidak punya uang sebanyak itu?” katanya. Saya hanya bisa menyemangatinya, putera Bapak pasti diterima, karena prestasinya kan bagus sewaktu di SMU. Saya yakin, saat itu, tidak mungkin PTN hanya menerima 18% lewat jalur SPMB, dan 82% lewat jalur khusus. Tidak mungkin, tidak manusiawi. PTN punya negeri, punya rakyat, harus berfihak pada rakyat sedang rakyat masih banyak yang tidak mampu dibandingkan yang mampu dan berlebih. Yah meski ada jalur khusus tapi minimal 50% harus diterima melalui SPMB. Ternyata di Bandungpun, beberapa teman ikut gelisah, seorang temen staf pengajar pontang-panting cari uang 17,5 juta untuk memasukkan puterinya ke universitas yang dahulunya IKIP, sebuah institut yang dahulu bisa dihitung sebagai PTN yang paling murah. Teman lain perlu 15 juta untuk memasukkan puterinya ke D3 universitas negeri di Bandung.
Ternyata beberapa tahun belakangan ini, ada pergeseran bila kita membandingkan antara PTN dan PTS, pada beberapa hal di rentang waktu katakanlah sepuluh tahun yang lalu dan sekarang.
Saya baru percaya bahwa PTN hanya menerima mahasiswa baru sebanyak 25-30% lewat jalur SPMB setelah membaca wawancara “Republika” yang mewawancara ketua Aptisi (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta). PTN sekarang tidak bisa disebut murah bila dibandingkan dengan PTS pada umumnya, meskipun ada beberapa PTS yang lebih mahal dibanding PTN. Dahulu PTS manapun selalu lebih mahal dibanding PTN manapun.
Dahulu PTN terbatas jumlah mahasiswanya, sekarang PTN menerima ribuan mahasiswa melalui jalur-jalur yang sengaja dibuat seperti D3 dibuat puluhan jurusan, Ekstensi, kelas eksklusif, kelas eksekutif, kelas sabtu minggu, kelas jarak jauh dll dan dibuat berkelas-kelas.
Dahulu PTN disubsidi Negara, sekarang PTN akan menjadi ladang uang yang menggiurkan. Coba saja hitung katakanlah ada 2000 mahasiswa baru, 25-30% diterima lewat jalur SPMB, misalnya 70% saja diterima lewat jalur khusus. Maka akan ada 1400 mahasiswa baru lewat jalur khusus Bila 1 orang saja membayar minimal 40 juta, biaya jalur khusus maka 40.000.000 dikalikan 1400 mahasiswa sama dengan 56.000.000.000. Sementara banyak yang membayar lebih dari 40 juta, saya pernah mendengar orang tua ada yang membayar 100 juta/mhs baru. Belum dari uang yang dikumpul dari mahasiswa lewat jalur SPMB yang juga tidak bisa dibilang murah, dan juga coba dikalikan dengan uang yang dikumpulkan sejak 4 tahun yang lalu. Berapa milyar yang terkumpul, malah mungkin menembus angka trilyun, bila mahasiswa ada 15000 total seluruh angkatan dari semua jurusan, coba hitung berapa uang yang terkumpul?
Ngga ada urusan sih, mereka dapat uang berapa, saya cuma ingin tau uang sebanyak itu dipergunakan untuk apa? masalahnya, setelah beberapa tahun sistem tersebut berjalan, saya lihat sepertinya di Lab. atau fasilitas di kampus PTN tidak bertambah, peralatan dan lain-lain.
Teman-teman yang menjadi dosen disanapun kebanyakan curhat, mengeluhkan, banyak sistem terutama manajemen dirubah, ketatnya sangsi kehadiran, ketatnya kenaikan pangkat dll, satu yang tidak berubah adalah kesejahteraan SDM, dosen, staf dll. Tapi entahlah ya kalau untuk mereka yang menjabat di struktural.
Untuk menyekolahkan para Dosennya? pun sepertinya tidak lah ya, karena sejak dulu Dosen PTN bila sekolah keluar negara adalah melalui beasiswa. Mudah rasanya mereka sekolah diluar, pertama karena Dosen PTN adalah mahasiswa terbaik dan pilihan, tidak semua mahasiswa bisa melamar menjadi Dosen di PTN, mereka adalah mahasiswa2 pilihan. Yang kedua adalah karena mereka mendapat rekomendasi dari Prof, Dosen senior yang biasanya namanya cukup terkenal di tempat Ia menuntut ilmu dahulu. Dan beberapa teman setelah lulus beberapa tahun malah tidak kembali untuk mengabdikan ilmunya. Dosen seniornya yang menjawab pertanyaan saya kenapa mereka tidak kembali setelah beberapa tahun lulus. Seandainya mereka pulangpun, tidak ada yang bisa dikerjakan disini kecuali mengajar, beberapa peralatan rusak, dan wawasan mereka yang masih muda2 tidak akan bertambah bila kembali ke PTN ini. Biarlah mereka mendapat tambahan ilmu dengan bekerja di industri dan mengajar di luar negeri yang fasilitasnya lengkap, pula mereka bisa mengumpulkan uang terlebih dulu sebelum kembali kesini yang belum tentu disini honornya mencukupi untuk biaya hidup sehari-hari.
Nah kalau semua tidak, lalu uangnya untuk apa yak?


August 21st, 2007 at 10:23 pm
Setelah baca tulisan ini saya jadi penasaran pengen mampir nengok blog nya mbak leni… ternyata memang latar belakang pendidikan sangat mempengaruhi terciptanya sebuah tulisan yang berbobot, kritis… (cieeehhh bahasanya rek… gak kuku)
Bahasanya ngobrol banget mbak, cuma make ‘NYA’ lumayan banyak juga yak… hehehe
August 21st, 2007 at 11:00 pm
T qyu kie comment atas tulisannya, kasi saran dong biar bahasanya ga ngobrol banget gtu lho
Nya nya kebanyakan ya, duhh teliti banget sih, jadi malu
Bener2 saya belajar nulis dari nol besar hehehe
August 22nd, 2007 at 2:40 am
Tulisan informatif dan jelas.
Gile juga RI dgn PTN nya, di Yunani test masuk 100% dan sekolah tanpa biaya dari TK- Universitas. Jadi anak petani, anak yatim yang cerdas kalau lulus test jadi mahasiswa di universitas negeri di Athena.
Biar berapa aja punya uang enggak bisa disogok, ya orang kaya akhirnya mengirim anaknya kuliah keluar Yunani.
Jadi inget SIPENMARU dulu, jadi memang lebih bagus dulu murni semua mahasiswa diterima jasil test.
Makasih Bu Leni infonya.
August 22nd, 2007 at 9:31 pm
Waoo justru susah banget lho bikin tulisan yang ngobrol kaya mbak leni. Dulu, waktu muda… (ciehh.. udah tua nih ceritanya) saya pernah jadi penyiar radio, dan ternyata untuk para announcer pemula dia harus bikin skrip dengan bahasa yang ngobrol untuk bicara disela-sela lagu… ternyata susah banget bo… jadi harus disyukuri punya ketrampilan nulis yang ngobrol gini.
Kalo soal “Nya”nya sih… kadang kita kan suka iseng mbak ngitung kata-kata yang terlalu sering diucapkan dosen pas ngajar dikelas (hahaha pekerjaan gak penting para mahasiswa kurang kerjaan). Inget donk mensesneg kita zaman dulu yang suka bilang …E… ee… hehehehe
Terus berkarya!!! saya juga baru banget belajar nulis, jadi kita sama-sama ya..
August 24th, 2007 at 1:08 am
Mkasih kembali Mb Tati, coba seperti di Yunani ya? sekolah sampe kuliah gratis, disini baru bisa mimpi deh, Saya sampe nangis waktu anter ponakan daftar ulang di PTN lihat seorang ibu minta tenggang waktu pembayaran satu hari saja ditolak dengan suara keras oleh panitianya.
Gitu ya Mb Kie? “mode tersipu2 on” saya suka menilai tulisan saya childish banget susah sekali merubah gayanya, ga ada ilmiah2nya. Atau kayak ibu2 lagi ngerumpi, padahal ga suka ngerumpi. Tp dibawah bimbingan Suhu, semangat terus deh belajar nulis nya