Tumpeng pilu
Bulan Agustus sudah tiba. Pengurus RT dan RW mulai kasak-kusuk. Rapat digelar. Agenda utamanya membentuk panitia ‘tujuhbelasan’. Setelah panitia terbentuk acara lomba disusun. Anggaran dihitung. Hadiah-hadiah untuk pemenang lomba ditentukan. Biasanya hasil penyusunan anggaran akan berakhir dengan saldo minus. Seperti biasa pula, solusinya adalah meminta kerelaan warga untuk memberikan sumbangan.
Di lingkungan tempat saya tinggal, salah satu lomba yang diadakan adalah lomba membuat dan menghias Tumpeng antar RT. Tumpukan nasi berbentuk kerucut ini ditata di atas tampah yang sudah dialasi daun pisang. Lauk pauk yang menyertainya disusun berjajar mengelilingi nasi berbentuk kerucut tadi dan diberi hiasan supaya penampilan secara keseluruhan tampak cantik. Lauk yang dipilih harus bermakna. Mewakili hewan darat, hewan laut dan tumbuhan. Tumpeng ini akan dimakan beramai-ramai setelah partai puncak dari masing-masing lomba selesai dipertandingkan. Jadi, tumpengnya harus cukup dimakan untuk satu RT yang terdiri dari kurang lebih 40 kepala keluarga.
Dua tahun yang lalu anggaran untuk satu tumpeng ditentukan sebesar 75 ribu rupiah. Ajaibnya, kali ini anggarannya hanya 50 ribu rupiah.
“Cukup kan 50 ribu untuk membuat satu tumpeng?” tanya salah seorang bapak yang menjadi panitia ‘tujuhbelasan’.
“Cukup kok, Pak!” dengan cepat saya menjawab. Raut wajah bapak-bapak yang hadir dalam rapat malam itu tampak senang dan lega. Berbeda dengan wajah ibu-ibu yang tampak kaget dan terkejut mendengar besarnya anggaran dan jawaban saya.
“Eh, 50 ribu itu untuk nasi Tumpeng beserta lauk pauk dan hiasannya loh…” Bapak yang bertanya tadi menambahkan keterangan.
“Tenang saja, bisa diatur kok, Pak!” jawab saya. “Ayamnya nanti beli cekernya saja. Telur ayamnya diganti pakai telur Cicak. Itupun dengan catatan kalau Cicaknya sedang musim bertelur. Urap sayuran dan lain-lainnya tergantung sisa anggaran yang 50 ribu itu.”
Sekarang raut wajah bapak-bapak berubah menjadi kaget dan terkejut. Berbeda dengan ibu-ibu yang dengan kompaknya menampilkan senyum lebar dari telingan kanan hingga telinga kiri.


August 1st, 2008 at 9:01 am
waduh, cara protes yang luar biasa cerdik. humor, canda. tapi, mengena. dengan kata lain, jangankan 50 rb. 10 rb pun jadi koq tumpeng. persoalannya, mau tumpeng nasi atau tumpeng pasir. he..eh..he..
lagi-lagi, sal hanya bisa tersenyum (tak perlu dari telinga kiri sampai kanan. lebar amat bibir, ketahuan doyan makan) membaca postingan lita.
boleh lah, sal bagi juga satu tulisan disini.
sal jadi panitia jalan santai. hadiah utama sepeda (850 rb-an), dua buah hp (600-an), emergency lamp lima (100-an). masih ditambah lagi 200 bungkus hadiah hiburan. biasa, menyambut 17-an juga.
eh, masih saja ada ibu-ibu protes “masa, hadiahnya sepeda. motor dong!”
“oh, iya. motor juga ada. tenang aja” kata sal.
“yang bener? ah, paling motor anak-anak”
“jangan salah, motor ninja KRR seharga 35 juta”
diam, menunggu reaksi. setelah mulai tertarik, sal bilang lagi “tinggal bikin tulisan aja pakai cat piloq -NINJA KRR-, apa susahnya”
memang, sudah pada haus gratisan.
August 1st, 2008 at 12:28 pm
Boleh juga tuh idenya Sal
Wah… hadiah lombanya ‘menggiurkan’ ya.. Nanti pas tujuhbelasan lita ikutan lomba di tempat Sal aja deh 
Thanks atas komentarnya. Mudah-mudahan banyak yang mengikuti jejak Sal: rajin posting dan rajin komentar!
August 2nd, 2008 at 1:35 pm
Waaaaah kalo ikutan berarti bisa mengurangi lemak berikut bisa dapat sepeda! << sejujurnya tidak pernah dibelikan sepeda.
Wah, pada asyik-asyik daerahnya, di daerah rumahku kagak ada acaranya, pada gak kompak..
August 4th, 2008 at 5:02 pm
Hahaha:) bagus, bagus. Sekalian aja telur nyamuk hihihi:) oke, tulisan humor yang cerdik. Tapi judulnya buruk banget dan nggak bikin moood buat baca. Mungkin jadi lebih asyik kalo judulnya:
TUMPENG TELUR CICAK AGUSTUSAN
Gubrak:)
August 4th, 2008 at 5:18 pm
@ Kinoysan:
Thanks atas komentarnya. Mengenai judul, sudah dibahas dengan Bang Jonru waktu konfre, hehehe… iya emang.. judulnya ‘gak banget’ ya? Mudah-mudahan next time better
August 4th, 2008 at 5:27 pm
ringan tapi telak “nyentil” bapak2….