Undangan
Selasa sore ini hari masih terang saat musim panas, saya tidur siang sejak jam 3 sore bersama kedua anak balita kami. Tiba-tiba ada dering telepon nyaring membangunkan saya, terdengar Aisyah anak perempuan satu-satunya yang berusia 9 tahun berbicara dengan si penelepon. Masih ada rasa kantuk menyerang, saya ingat belum menunaikan solat asar dan turun dari pembaringan menuju lantai bawah.
“Aisyah siapa yang telepon sayang?” tanya saya, ” oh tadi yang telepon Baba ( panggilan ayah bahasa Yunani) bilang kita semua diundang Thia Aspasia kerumahnya makan malam, jadi harus siap-siap jam 7.30 pm kita berangkat kata Baba” demikian Aisyah memberi laporan lengkap hasil pembicaraan di telepon dengan suami saya yang sedang bekerja memasang stiker untuk mobil sebagai pekerjaan keduanya untuk menambah penghasilan.
Suami saya memang bukan sarjana, ia hanya seorang teknisi tamatan sekolah teknik dan bekerja di kilang minyak. Kami berkenalan melalui internet saat ia bekerja di Doha-Qatar, disanalah ia mengenal Islam secara keseluruhan dan ia banyak bertanya tentang agama pada teman-teman kerjanya di Doha. Suami terkesan saat melihat orang Arab sangat kuat bekerja di kilang minyak walaupun puasa di bulan ramadhan.
Beralih soal undangan Thia (tante bahasa Yunani) Aspasia kakak mertua perempuan saya, maka bersegera saya jagakan Dullah dan Hadi dari tidur siangnya agar bisa solat Asar bersama.
Jam 6.30 pm suami pulang membawa 2 pak telur dan buah anggur, belum sempat saya bertanya, suami sudah memberi penjelasan lebih dahulu ” ini telur dan buah anggur dari Pak Riga, stiker yang saya tempel di truknya kecil hanya keterangan kapasitas angkutan - truk angkutan telurnya akan dikenakan denda 600 euro jika ketangkap polisi tanpa stiker, hari ini saya dibayar dengan telur dan buah anggur” tampak wajah suami lelah setelah seharian bekerja di kilang dan langsung bekerja design, memotong dan memasang stiker.
Megara kota tempat kami tinggal memang kota kecil yang terkenal dengan produksi telur dan hasil pertaniannya, rumah yang kami bangun diatas tanah pertanian sepi sekali, rumah dikelilingi oleh pohon zaitun dan rumah tetangga jaraknya berjauhan. Pernah teman asal Indonesia yang bertempat tinggal di Athena heran dan bertanya ” kok bisa sih Tati betah tinggal disini, sepi dan mirip hutan?” saya hanya senyum menjawabnya sebab teman dari KBRI tersebut tahu bahwa saya berasal dari Jakarta kota ramai dan hiruk pikuk.
Melihat buah anggur yang ranum segera saya cuci dan cicipi dan hmm memang rasanya manis sekali apalagi tanpa biji, telur yang berjumlah 60 buah seketika membuat hati riang sebab besok saya bisa membuat bolu kukus memakai bahan telur.
Sebelum berangkat anak-anak sudah rapi berpakaian, Aisyah memilih memakai baju warna pink kesukaannya, Abdullah yang usianya 40 bulan dan biasa dipanggil Dullah memakai baju kaos warna biru muda serta bawahan celana 3/4 warna krem, sedangkan si bungsu Hadi memakai baju kaos biru dan celana biru.
Jam 7.30 pm kami sudah tiba di rumah peninggalan suami thia Aspasia yang jaraknya hanya 2 km dari rumah kami. Ditengah jalan kami sempatkan membeli buah tangan berupa biskuit buatan penduduk setempat pemilik toko roti. Kami disambut dari belakang beranda rumah dengan senyuman oleh thia dan anak laki-lakinya Bill yang baru datang dari US untuk liburan musim panas di Megara. Thia Aspasia memang menetap di US dan datang ke Megara hanya sekedar berekreasi dan melihat kondisi rumah mereka di Megara.
Thia Aspasia memakai pakaian serba hitam-hitam sesuai adat istiadat orang Yunani yang ditinggal mati oleh suaminya, ia berusia 72 tahun namun masih nampak sehat dan kuat. Thia Aspasia anak nomor dua dari 6 bersaudara, 4 laki-laki dan 2 orang perempuan. Perawakannya sedang, berambut pendek warna pirang, agak gemuk dan tampak gelambir di lehernya, matanya berwarna coklat masih menampakkan kesedihan sejak suaminya meninggal akibat penyakit diabetes.
Bill nama aslinya Vassilis, badannya tinggi kira-kira 190 cm, rambutnya lurus hitam legam, berkumis model petenis Andre Agassi, kurus sebab ia suka jalan kaki, ia tidak merokok.
Hidangan telah menanti diletakkan diatas meja plastik dengan taplak meja krem kembang-kembang. Kami makan diberanda belakang rumah. Menu yang disajikan berupa roti, sayur buncis dan kentang, salad tomat dicampur ketimun dan bawang, keju feta ( keju dari susu kambing), dan ikan bakar membuat saya nafsu makan. Minuman ringan ada orange jus tetapi kami semua memilih meminum air putih dingin.
Hanya duduk sekitar 40 menit kami langsung pulang sebab waktu mahgrib segera tiba, yaitu jam 8.13 pm. Ya thia dan Bill mengerti ketika kami pamit pulang cepat-cepat. Sebelum pulang anak-anak dikasih hadiah permen oleh thia Aspasia.
Megara, 21 Agustus 2007


August 22nd, 2007 at 1:45 pm
suami mbak Tati orang yunani asli ya?
ceritain juga dong mbak gmn bisa ktmu ama suami, hehehe..penasarn dot kom
August 22nd, 2007 at 6:17 pm
ya melalui internet saja dan dia berkunjung 6 kali ke Indonesia, lalu mertua dan keluarganya datang ke Indonesia melamar.