Watch Out! Japan Strikes Back!! : From Oshin to Cosplay (1)
Pada hari ini 62 tahun yang lalu, Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya setelah selama 3,5 tahun di bawah penjajahan Jepang. Kata-kata itu adalah sedikit dari pidato yang saya dengar saat mengikuti upacara 17 Agustusan lalu. Benarkah kita sudah merdeka dari “penjajahan” Jepang? Saat kembali ke rumah, saya memandangi isi kamar saya. Di dalam lemari, tampak terjejer rapi puluhan koleksi Robot Rakitan Mobile Gundam Suit, bersanding mesra dengan koleksi action figure Saint Seiya, Evangelion dan Naruto. Sementara di sebelahnya, tak kalah rapinya, berjejer koleksi anime dan film serta DVD dari artis Jepang. Di sudut yang lain, tampak dengan manisnya Nintendo DS- konsol game handheld keluaran Nintendo- menanti untuk dimainkan. Akhirnya, mata saya tertuju pada sosok Kenshin- salah seorang tokoh di Serial Anime Rerounin Kenshin alias Samurai X- yang berdiri gagah dengan pedang terhunus yang menghiasi dinding kamar saya. Saya lahir jauh setelah Indonesia merdeka, namun saya juga merasakan bentuk “ penjajahan “ lain dari Bangsa Jepang. Jepang “menyerang” kembali dari berbagai arah baik dari segi ekonomi maupun budaya.
Disadari atau tidak, sejak kecil kita sudah “teracuni” oleh sesuatu yang berbau Jepang. Masih ingat dengan Voltus, Dai Sentai Google V, Mazinger Z, Megaloman, Lion Man, Gavan dan Sharivan? Pada tahun 1980-an tokoh-tokoh tokusatsu itulah yang menjadi idola anak-anak. Saya masih ingat ketika saya harus mengantri di bawah guyuran hujan hanya sekedar untuk menonton film jagoan kesayangan saya, Gavan, yang dahulu masih dalam format VHS. Dan masih terbayang juga saat saya menonton pertunjukan Live Google V di Istora Senayan. Untuk seukuran anak berumur 10 tahun, pertunjukkan itu sangat spektakuler. Saya senang bukan kepalang.
Di lain pihak, ada satu hal lagi yang ngetop saat itu yaitu mesin permainan alias video game, antara lain keluaran Atari dan Nintendo yang terkenal dengan Mario Bros dan Donkey Kong-nya. Dan jangan lupa, manga atau komik Jepang juga sudah mulai merebak di tanah air.
Serbuan tidak berhenti sampai di situ, karena kemudian kita kebanjiran dengan hiburan-hiburan yang datangnya dari Negaranya Shinzo Abe ini. Tontonan favorit pada medio 1980-an apalagi kalau bukan film Oshin yang dputar TVRI. Film yang mengisahkan kehidupan seorang wanita bernama Oshin Tachibana sejak kecil yang penuh derita hingga masa tuanya yang bahagia sebagai seorang pengusaha. Kisah yang mengharukan ini berhasil menarik perhatian penonton Indonesia yang saat itu hanya bisa menonton TVRI atu-satunya stasiun televisi yang tersedia di negeri ini.
Tahun 90-an TVRI tidak lagi sendiri. Stasiun-Stasiun TV baru saat itu seperti RCTI, SCTV dan Indosiar saling berlomba menarik penonton dan salah satunya dengan menyajikan tontonan asal Negara Sakura itu. Siapa yang tak kenal Candy-candy, Doraemon, Dragon Ball, Satria Baja Hitam dan Crayon Shinchan? Belum lagi ditambah dengan membanjirnya Dorama seperti Tokyo Love Story, Ordinary People, What a Wonderful Life hingga Great Teacher Onizuka. Pada masa-masa ini juga, kita dapat dengan mudah menemukan manga di toko-toko buku.
Sementara itu di dunia Videogame, Sony Entertainment Inc dengan sukses meluncurkan konsol game PlayStation beserta variannya serta Nintendo yang mengeluarkan GameCube dan Game Boy. Dan game- game centerpun mulai menjamur dimana-mana.
Era 90-an bisa dibilang sebagai masa mulai berkembangnya musik asal Jepang di Indonesia. Berbagai band yang mengusung aliran Japanese Rock atau J-Rock yang terkenal di Jepang terdengar gaungnya di negeri ini. Saat itu di Jepang di Jepang sedang gandrung musik yang diusung antara lain oleh L’arc en ciel, Glay, Malice Maizer dan X Japan. Tidak sedikit para pecinta J-rock tanah air yang harus berjuang demi mendapatkan CD artis kesayangannya karena tidak banyak artis Jepang yang CD atau kasetnya dirilis di Indonesia sehingga harus mengimpor dari luar.

