Watch Out! Japan Strikes Back!! : From Oshin to Cosplay (2)
Di tahun 2000-an, perkembangan kultur Jepang sudah tidak bisa dibendung lagi. Salah satu “jejak” dari budaya Jepang yang nyata dan bisa disaksikan saat ini adalah Harajuku Style. Harajuku, nama sebuah jalan di Jepang, tepatnya di Tokyo yang terkenal sebagai tempat nongkrongnya anak muda Tokyo. Tempat itu begitu terkenal karena anak-anak yang berkumpul di sana bukanlah anak muda biasa, tetapi anak-anak muda yang berani tampil beda, berani mengekspresikan diri, berani melawan mainstream dan anti kemapanan, mulai dari cara berpakaian sampai potongan rambut. Mereka membentuk suatu komunitas tersendiri. Jangan aneh jika melihat ada orang berambut pink atau berwarna biru laut. Namun gaya yang melawan main stream ini justru kemudian malah digandrungi oleh remaja di
Indonesia.
Seiring dengan makin banyaknya penyanyi Jepang yang albumnya dirilis oleh perusahaan rekaman di Indonesia, makin menjamur pula band-band lokal yang memainkan lagu-lagu Jepang. Hal ini tentu saja mendorong banyaknya event-event festival musik Jepang di negeri ini. Bukan hanya di Jakarta saja, kini Japanese invasion sudah mencapai kota besar lainnya seperti Medan, Surabaya, Bandung dan makasar. Para Pencinta kultur Jepang ini biasanya hidup dalam suatu komunitas. Misalnya komunitas pencinta band L’arc-en Ciel, komunitas Cosplayer dan lain-lain. Komunitas-komunitas ini berdiri sebenarnya untuk memudahkan mereka sendiri dalam mendapatkan informasi mengikuti perkembangan yang terjadi di Jepang. Solidaritas dalam komunitas-komunitas ini begitu kuat.
Yang patut dicatat, saat ini dalam satu bulan saja bisa terdapat 2-3 kegiatan diadakan yang berbau Jepang-Jepang-an ini.Baik yang berbentuk suguhan pertunjukan tradisional seperti Taiko, upacara minum teh, membuat kaligrafi Huruf Kanji, cara membuat origami dan ikebana, maupun yang sudah dimasuki oleh subkultur modern seperti lomba Cosplay. Cosplay berasal dari kata Costume Player- dalam bahasa Jepang Cosu Pure- yaitu orang yang berpakaian meniru dari sebuah karakter. Karakter ini bisa dari karakter yang ada di anime, manga, tokusatsu ataupun dari penyanyi idola mereka yang sering ber-visual kei . Pada lomba Cosplay ini biasanya yang dinilai adalah keserasian dan kemiripan busana yang dipakai dengan tokoh yang ditiru.
Satu hal yang perlu diingat adalah, budaya Jepang ini kini sudah merambah masuk ke Sekolah Menengah Atas. Hal ini terbukti dengan makin banyaknya sekolah yang mengadakan kegiatan Ekstrakulikuler yang berhubungan dengan budaya Jepang seperti seni melipat kertas atau origami, musik tradisional Taiko bahkan kumpulan pencinta Cosplay-pun ada!
Memang, mempelajari budaya baru sangatlah mengasyikkan. Namun hal itu jangan sampai membuat kita juga melupakan budaya sendiri. Hal ini harus disadari oleh berbagai pihak agar jangan sampai budaya negeri sendiri dilupakan oleh generasi mudanya. Jika di Jepang ada Karate maka di
Indonesia punya Pencak Silat. Jika di Jepang ada Taiko, maka di negeri kita ada rampak kendang.
Keterangan :
Anime= kartun
Manga = komik
Tokusatsu = tokoh jagoan yang wujudnya tidak kartun seperti Goggle V, Megaloman
Visual Kei = artis yang jika manggung menggunakan riasan yang tematik misalnya bertema ghotic
Ps: saya kembali memandangi koleksi robot Gundam saya. Di samping saya, ada ayah saya, kami sedang mendengarkan sandiwara Radio Berbahasa Sunda. Ini ritual setiap jam 9 malam. Kadang diwaktu senggang, kami “barteran” mendengarkan musik. Saya mendengakan musik tradisional kecapi Cianjuran, sedangkan ayah saya mendengarkan musik tradisonal kecapi Jepang. Kedua musik itu jika sekali dengar terasa tidak ada bedanya, perlu ekstra pasang kuping sebelum memastikan bahwa yang didengar itu adalah kecapi Jepang atau Cianjuran.

